BURUH

by 22.24 2 komentar
Oleh Maltuf A. Gungsuma

Suasana dalam pabrik sepatu Reebin tidak seperti biasanya.Tidak ada aktivitas di dalamnya.Tampak para buruh berkerumun di sudut ruangan.Ada perbincangan serius di antara mereka.


”Kita harus cepat bergerak, biar tidak selalu dipermainkan oleh dunia,” ujar bu Rasti, ketua buruh pabrik, dengan berapi-api. ”Kita tidak bisa menunggu lama lagi. Kita tidak bisa menjadi orang yang selalu tertindas. Pak Yakob harus kita beri pelajaran,”lanjutnya. Bu Rita, salah satu dari para buruh itu, hanya berkecamuk dengan pikirannya sendiri.

Edo,anak sulungnya, kalau dinyatakan lulus tahun ini, akan memasuki kuliah. Akankah cita-citanya untuk menjadi sarjana akan pupus? ”Kami semua menaruh harapan kepadamu sebagai orang yang terlama bekerja di pabrik sepatu ini,” kata bu Sutijah mewakili dari seratus pekerja yang ada.”Kamu pasti tahu kapan dan bagaimana kita akan melakukan rencana gebrakan ini.” ”Kalau kita mau,sekarang juga kita bisa melakukan ini!” timpal Bu Rasti dengan tidak sabar.

Bu Rita tersentak mendengar ultimatum itu. Ia tidak siap kalau harus kehilangan pekerjaan ini. Apa lagi sejak ditinggal Harun satu tahun silam. Seorang suami, yang dinilainya, bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. ”Kalau kita melakukan ini sekarang, apa tidak akan mencurigakan?” tanya Tanti sangsi.Ia menjadi buruh di pabrik ini baru satu bulan. ”Kita akan melakukannya secara bertahap,” tutur bu Rasti menjelaskan. Ia menghela nafas pelan-pelan.

Bu Rita menatap lekat wajah bu Rasti yang buram.Ia tahu bu Rasti jugatidakinginkehilangan pekerjaan ini.Kemudian bu Rasti melanjutkan lagi,”Untuk permulaan,hanya sebagiansajayangdiberilemsedikit dan yang lainnya seperti biasa.” ”Maksud kamu, untuk sementara, sebagian dari kita akan melakukan rencana ini dan yang lainnya tetap pada semula?”tanya bu Yani yang mempunyai tubuh paling besar di antara pekerja.

”Betul kamu,Bu Yani!” Terbayang juga oleh bu Rita nasib anaknya yang nomor dua, Meha.Meha masih baru menginjak kelas dua SMU tahun ini.Terlintas perkataan mbak Ratih, yang menjodohkan Wahyu, kepada Meha. Padahal, ia tahu Meha termasuk anaknya yang paling rajin dan selalu rangking kelas tiap tahunnya. Ia mengelus dadanya yang terasa sesak.Bu Rita menghela nafas berat. ”Kalau begitu, kita langsung bagi tugas sekarang!” bu Yani, tidak sabar lagi.

”Baiklah, karena aku yang punya rencana ini, maka aku yang akan membaginya!”timpal bu Rasti memutuskan. Kemudian, dengan cekatan bu Rasti membagi tugas.Bu Rita luar biasa kagetnya ketika ia ditunjuk menjadi ketua yang akan menjalankan misi ini. Dan bu Yani menjadi ketua di kelompok yang masih bekerja seperti semula. ”Apa kau siap, Bu Rita?” tanya bu Rasti kepadanya.

”Ya, aku siap, Bu Ras!” jawabnya gugup. Sesungguhnya, bu Rita tidak tega pada teman-teman semua. Ia tahu kemelut mereka, tentang anak-anaknya di rumah. Seperti hal dirinya,selain Edo dan Meha,ia masih punya Syukron dan si bungsu Hani yang masih berumur tiga tahun.Haruskah mereka yang akan menanggung semua itu.

***
”Ibu,bantu aku ya,ngerjainPR Matematika!”bujuk Meha kepada bu Rita. Malam ini Meha tiba-tiba sudah ada di tepi ranjang ibunya. Sejak selesai salat isya’ bu Rita langsung membaringkan tubuh lelahnya di kamar. ”Ibu lelah ya?”lanjutnya mengajukan pertanyaan yang mestinya tidak usah dijawab. Bu Rita meringsut dan menyandarkan bantal pada dinding ranjang.

Bu Rita dengan muka kusut,mencoba duduk dan menyandarkan tubuhnya pada bantal itu. Ia tatap wajah polos anaknya, yang bulan depan menginjak umur 17 tahun. Tangannya yang kasar diangkatnya, sehingga bisa menjangkau rambut lurus dan mengkilat itu. Pesona rambut anaknya mengingatkan ia pada masa lalu, ketika masih muda. Rambut yang selalu dipuja Harun dan dicium sebelum bercinta. ”Kang, apa kau mencintaiku karena rambutku?” tanya bu Rita suatu malam pada suaminya.

Ia risau karena Harun tidak pernah memuja yang lain kecuali rambutnya. Mendengar pertanyaan itu, Harun tersenyum mafhum seraya membelai pipinya. ”Aku suka sama kamu karena kamu mempunyai segalanya. Secara batin, hatimu lembut, setia, dan penyayang suami.Secara lahir, matamu indah,bibirmu rekah,dan semuanya sempurna di mataku. Hanya saja, yang paling aku kagumi darimu adalah rambutmu itu. Bila semalam aku tidak membelainya, aku akan merasakan rindu yang sangat terhadapmu.

Rindu yang tidak bisa ditebus hanya dengan menatap wajahmu.” Bu Rita tersenyum simpul mendengar pujian dari suaminya itu.Ia peluk suaminya semakin erat. ”Ibu kenapa, lelah ya?” ulang Meha bertanya pada ibunya yang sedang memeluknya erat-erat.Mendengar pertanyaan Meha, bu Rita seketika tersadar dari lamunannya. ”Eh, nggak kok, ibu nggak apaapa!” Bu Rita melepaskan pelukannya, mencoba tersenyum pada anak cantiknya,walaupungetir.Mehamenyerahkan bukunya pada ibunya. ”Yang mana sayang,yang kamu tidak tahu?”

”Yang ini, Bu?” Meha menunjuk soal yang tidak ia mengerti. Bu Rita mencoba berpikir, membolak-balik catatan Meha serta buku paketnya.Tapi, bu Rita belum ada tanda-tanda akan mulai menghitung. ”Ibu tidak bisa ya?” ”Maaf ya Meha, pelajaran ibu dulu tidak sampai ke sini,” bu Rita mencoba memberi alasan. ”Kau juga tahu kan, ibu hanya lulusan SMP.” ”Gakapa-apa,Bu,”timpal Meha santun. ”Maaf ya, Bu, telah merepotkan ibu. Andai ayah masih ada, Meha gak akan merepotkan Ibu yang sudah kecapean seharian kerja di pabrik. Ibu hanya sendiri berjuang untuk menutupi kebutuhan kami semua.” Tiba-tiba air mata bu Rita jatuh.

Hatinya pilu. Hatinya perih. Ia belum sanggup mengatakan semua keadaan yang terjadi di pabrik kepada anak-anaknya.
***
Dua bulan berjalan. Misi terus dijalankan oleh para buruh. Sedikit demi sedikit pabrik sepatu Reebin mengalami penurunan permintaan. Pak Yakob, Dirut Reebin, tidak pernah merasa ada faktor internal yang melatarbelakangi semua ini. Ia beranggapan ini hanya gejala biasa saja yang sering terjadi pada persaingan antarpabrik.Hingga akhirnya, para buruh menjalankan misi total.Semua buruh bersatu untuk menghancurkan Reebin dari dalam.

Suatu pagi, pabrik sepatu Reebin gempar.Banyak konsumen yang komplain.Mereka, lewat call consumen,menyatakan kekecewaannya terhadap produk Reebin yang sudah tidak berkualitas. Semua barang yang terkirim ke luar kota maupun ke luar negeri ditarik kembali oleh pihak pabrik. Pemberitaan di koran mulai bermunculan, bahwa pabrik Reebin terancam gulung tikar. Pak Yakob kaget mendengar berita tidak mengenakkan itu. Selaku direktur utama, ia langsung mengumpulkan semua staf, direksi, dan semua buruh pabrik.

Setelah mereka semua berkumpul di ruang rapat, pak Yakob muncul dengan raut wajah memerah. Semua staf, direksi, dan buruh memilih bungkam. Raut wajah mereka menegang.Terasa ruangan itu memanas. Terutama para buruh yang mengetahui musabab peristiwa ini.Kebanyakan dari mereka mengeluarkan keringat dingin dari keningnya. Jauh di sudut ruangan, bu Rita menundukkan kepala. Pikirannya berkecamuk, apa nasib yang akan menimpanya setelah ini. ”Selamat siang semuanya,” salam pembuka pak Yakob dengan nada berat.

Semua mata perlahan tertuju ke arah pak Yakob yang sedang berdiri di podium. Sorot mata yang kusut,memerah. ”Lansung saja, saya tidak mau basa-basi. Tentu kalian semua sudah tahu, apa yang telah menimpa perusahaan kita ini. Reputasi Reebin yang berkualitas di negeri ini sudah tercoreng.Reebin yang dibangga-banggakan telah hancur total. Itu semua karena kecerobohan kalian semua. Setelah ini, saya tidak mau tahu, kalian harus bertanggung jawab.

Kalian harus menanggung akibatnya.” Pak Yakob, lalu berbicara solusi. ”Sebagai ganti kerugian perusahaan, saya tidak akan menggaji kalian bulan ini. Saya yakin, semua ini ulah para buruh karena tidak dipenuhi permintaan kenaikan gaji. Apabila kalian menunjukkan profesionalitas kalian lagi dalam bekerja, maka saya berjanji akan menaikkan gaji kalian bulan depan.” Sebagian dari para buruh tepuk tangan dengan sumringah senyum yang mengembang di bibirnya.

Sebagian lagi memilih diam. Malah bu Rasti,yang mengenal kelicikan pak Yakob, secara diam-diam mencibir ke arahnya. ”Saya sekarang butuh bukti dari kesetiaan kalian kepada pabrik Reebin ini,”ujarnya dengan tersenyum sinis, entah apa maksudnya.

”Saya tahu, kalian pasti butuh pekerjaan untuk menopang kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak kalian semua. Kalau kalian tetap tidak menunjukkan profesionalitas kalian, maka saya tidak segan-segan memecat kalian dari pabrik ini. Oke,itu saja pidato saya.Setelah ini saya tidak mau ada komplain lagi dari kalian, karena saya sudah pusing dengan komplain dari konsumen.Terima kasih.” Turun dari podium, pak Yakob langsung meninggalkan ruangan dan menuju ruangan Dirut.

***
Keesokan harinya, para buruh datang lebih pagi dari biasanya. Mereka terlibat jajak pendapat di halaman pabrik. Mereka sedang membicarakan nasib yang pasti akan menimpa.Entah,berapa hari lagi itu waktunya pasti akan tiba kalau misi terus dilanjutkan. ”Aku tahu betul kelicikan pak Yakob.

Ia selalu mengumbar janji yang tidak pasti.Aku yakin, janjinya yang kemarin hanyalah omong kosong saja.Tapi, terserah kalian. Apa kalian mau percaya sama katakataku atau sama pak Yakob, yang sudah jelas-jelas selalu menindas kita sebagai buruh. Dan aku tetap akan menjalankan misi ini, walaupun harus sendirian.” Bu Rita miris mendengar ucapan bu Rasti yang seakan-akan tidak merasa khawatir dengan nasibnya dan semua buruh yang sekarang berdiri di hadapannya.

”Iya Ras,tapi kami semua di sini bingung, tidak tahu harus pergi ke mana setelah ini,” sela Sutijah sangsi. ”Tenang kalian,aku tidak akan meninggalkan kalian, aku sekarang membawa kabar baik untuk kalian semua?” sumringah bu Rasti. ”Kemarin, aku dapat kenalan yang sanggup menampung kita semua untuk bekerja di pasar tingkatnya yang dibangun tahun lalu. Ia adalah pengusaha sukses sekaligus pemerhati buruh yang aku kenal dari teman kelasku, waktu SMU dulu.

Namanya pak Jamal. Ia hanya mau minta seperempat persen dari penghasilan kita per hari.” Mendengar kabar menggembirakan itu,tepuk tangan bergemuruh memenuhi halaman pabrik. Pak Yakob, para jajaran staf dan direksi belum ada yang menampakkan batang hidungnya.

Yogyakarta,2009

Maltuf A. Gungsuma

Penulis

Aku hanya seorang lelaki yang menjalani hidup ini dengan sederhana. Sesedarhana tidur untuk menyembuhkan kantuk dan sesederhana senyum untuk menyembunyikan luka. Ibuku pun mengajari, "Jika kau lapar di rantau, Nak, makanlah 1 gorengan dan minumlah yang banyak, niscaya akan kenyang". Ya, sesederhana itu.

2 komentar:

  1. eksis juga...
    alhamdulillah...!
    semangat youw....!!!!
    jadilah bagian "api tak kunjung padam"-nya Madura!

    BalasHapus

Saya bahagia bila Anda bersedia memberi komentar setelah membaca tulisan di atas. Terima kasih.