Cerpen Maltuf A. Gungsuma
Baju loreng itu tidak berbentuk lagi. Pada bagian perut, punggung, dan lengan atasnya terlihat seperti ada benda tajam yang merobeknya. Pasti ayah, pemilik baju ini, pada hari naasnya itu tubuhnya dihujani senjata tajam. Ya, jelas sekali pada bagian sobekannya ada bercak darah yang mengering. Sampai sekarang, dua puluh enam tahun kematiannya, amis darahnya masih terasa menyentuh hidung. Inilah warisan ayah untukku, selain sebuah celurit bergagang naga. Setelah sekian tahun disimpan, ibu memberikannya padaku.
Dulu, sewaktu aku masih berumur tujuh tahun, ibu cerita padaku perihal kematian ayah. Dia mengatakan, baju loreng dan celurit ini adalah saksi sejarah kematian ayah sebagai kesatria. Ayah tewas saat carok melawan pak Kifli, manusia kejam itu. Manusia yang telah merenggut kebahagiaanku. Aku menjadi yatim saat usiaku masih menginjak dua tahun.
“Sebagai anak lelaki satu-satunya, kau wajib membalaskan dendam ini kepada Kifli,” ucap ibu dengan nada pilu suatu ketika. Ada aura kemarahan yang terpendam dalam hatinya.“Sebagai bentuk pengabdian kepada ayahmu, kau pakai baju ini dan tancapkan celurit ayahmu pada lambung biadab itu,” lanjutnya.
Aku hanya bisa diam dan terpaku. Aku dapat merasakan harapannya yang tinggi terhadapku. Dia ingin akulah yang akan menyembuhkan sakit hatinya.
“Ambil hati dan jantungnya untuk ibu!”
Aku sering miris ketika mengingat kata-kata ini meluncur dari bibirnya. Aku tidak membayangkan begitu besar dendamnya terhadap lelaki itu.
Dendam ini bermula setelah pak Kifli menodai ibu. Waktu itu, di suatu siang yang sepi, saat ayah masih mencangkul di sawah, ibu mencuci baju dan popok sobekan sarung punyaku di sungai. Tiba-tiba dari belakang tanpa ibu ketahui, Pak Kifli mendekat, kemudian mendekap tubuh ibu dengan eratnya. Ibu menjerit sekuat-kuatnya. Tapi tidak ada yang datang menolong. Sungai itu terlalu jauh dari rumah penduduk. Pada saat itu hanya ada suara burung berkicauan di balik reranting dengan mengepak-epakkan sayap, seakan mengutuki kelakuan lelaki biadab itu terhadap ibu.
Ibu meronta, mencoba melepaskan diri dari lingkaran tangan kekar itu. Tapi, ibu tidak kuasa. Ibu hanyalah seorang wanita lemah. Seperti kelembutan jiwanya yang mampu menarik perhatian semua lelaki di desaku.
Manusia biadab itu lantas melucuti sampir ibu. Hanya sehelai sampir itu yang menutupi tubuhnya. Dia tetap berontak dengan menjerit sekuat-kuatnya. Tapi tetap tidak bisa lolos dari lelaki kekar yang sedang mencengkramnya itu. Dengan agak kasar ibu ditidurkan di hamparan batu, tempat orang biasa mencuci baju. Dan, seperti binatang buas, pak Kifli memperkosa ibuku. Sungguh laknat!
Sebenarnya, aku tidak kuasa mengingat aib yang sudah diceritakan ibu ini. Aib ini telah menyiksa batin ibu dan semua keluargaku. Terutama Fatimah, benih dari manusia laknat itu.
Setelah kejadian itu, pak Kifli tidak pernah lagi kelihatan batang hidungnya di desaku. Ayah sangat marah saat mendengar pengaduan sendiri dari ibu. Emosi ayah menemui titik klimak ketika semua orang-orang membicarakan kejadian itu dan memanas-manasinya untuk balas dendam. Kemudian, ayah mencari jejak pak Kifli ke desa sebelah.
Berhari-hari, baru persembunyian pak Kifli terlacak. Dia tinggal di rumah saudaranya dengan tampang tidak bersalah. Sikapnya yang tenang, membuat orang-orang sekitarnya tidak merasa curiga terhadapnya, yang tiba-tiba berkeinginan tinggal di rumah saudaranya itu.
Disusunlah rencana. Ayah hanya bergerak sendiri. Dia tidak mau minta bantuan kepada saudara-saudaranya. Dia bilang, ini adalah demdam pribadi, antara pak Kifli dengan keluargaku, maka harus diselesaikan seorang diri.
Pada suatu malam tanpa rembulan, sesuai dengan rencana, ayah secara diam-diam mendatangi rumah tempat persembunyian pak Kifli. Tentu, ayah tidak akan mengajakku karena aku baru berumur dua tahun waktu itu. Tahu apa anak seumuran itu. Yang aku ingat, aku hanya bertanya pada ibu, kemana ayah hendak pergi.
“Ayahmu pergi ke konjangan dan nanti dia akan bawakanmu oleh-oleh yang banyak!” jawab ibu sambil menyeka air yang menetes ke pipinya. Ibu membelai rambutku. Aku masih tidak tahu arti sebuah tangis waktu itu. Aku pun tertawa segirang-girangnya karena sebentar lagi aku akan makan dodol yang empuk, kesukaanku.
Menurut cerita, ketika sampai di rumah persembunyian pak Kifli, ayah langsung berpapasan dengan si pemilik tubuh tambun. Tapi, sungguh naas nasib ayah. Pak Kifli yang mengetahui siapa yang ada di hadapannya, langsung dia melarikan diri sambil meneriaki maling pada ayah.
Walaupun menyadari akan bahaya yang mengancam, ayah tidak melarikan diri. Karena disulut amarah, ayah tetap mengejar pak Kifli dengan menjunjung tinggi-tinggi celurit yang ada di tangan kanannya.
Dengan kecepatan larinya, ayah dapat menyamai tubuh pak Kifli. Dan dengan cekatan ayah melayangkan mata celurit pada punggungnya. Alhasil, tubuh pak Kifli terkapar ke tanah. Melihat ke tak berdayaan lawan, ayah lantas tertawa lepas. Ayah merasa puas. Dendam telah terlunasi.
Tapi hanya sebentar, ayah tersentak kaget melihat tubuh pak Kifli masih bisa bergerak. Meringsut dan duduk menyandar pada pohon mahoni di sampingnya.
“Maaf, aku khilaf!” ucap pak Kifli dalam, dengan nafas tersengal-sengal menahan sakit.
Mendengar kata maaf dari mulut pak Kifli, harga diri ayah terasa terinjak-injak. Bukan menerima permintaan pak Kifli, malah ayah mengangkat tinggi-tinggi celurit yang ada di tangan kanannya,”Inilah pertanda maafku terhadapmu!”
Tapi, tanpa ayah duga sebelumnya, teriakan maling pak Kifli tadi berhasil membangunkan seluruh warga kampung. Dan sekarang sudah bergerak mendekati ayah.
“Itu malingnya!” suara teriakan salah satu dari sekelompok warga yang sedang berlari dari arah barat. Warga itu beringas. Berlari seperti singa menemukan kijang di padang rimba. Di tangan kanan mereka memegang celurit, parang panjang dan sebagian memegang balok kayu. Dan di tangan kiri, mereka memegang obor yang semakin membakar emosi mereka. Celurit dan parang-parang panjang itu mengkilat, membisikkan aroma kematian sebentar lagi akan terjadi.
Menyadari akan adanya bahaya, ayah meninggalkan pak Kifli dan melarikan diri ke arah Timur. Ayah terus berlari seakan tidak mengenal lelah. Akhirnya, karena kehabisan tenaga, tubuh ayah limbung dan jatuh ke tanah. Dan inilah saat, di mana ayah tidak bisa menghindar dari maut. Ayah dimassa oleh warga. Mereka tidak menghiraukan ayah yang merintih kesakitan. Tubuhnya terus ditebas dengan bertubi-tubi. Kepalanya digebuk dengan balok kayu. Hingga ayah menemui ajal dengan keadaan terlentang dan bersimbah darah. Lantas warga pulang ke rumahnya masing-masing, membiarkan tubuh ayah terkapar di atas tanah.
***
Keesokan harinya, oba’ Hadi, salah satu saudara ayah yang mendengar berita kematian ayah, langsung mendatangi tempat kejadian. Oba’ Hadi terkejut, ketika mendapati tubuh ayah yang mulai dikerumuni lalat dibiarkan begitu saja oleh masyarakat setempat. Tidak ada sehelai daun pun yang menutupi tubuhnya. Mereka masih mengira ayah adalah maling yang tidak perlu dikasihani, walaupun sudah jadi mayat. Tanpa terasa, air mata Oba’ Hadi jatuh.
Karena merasa tidak akan ada yang membantu, tanpa rasa jijik, oba’ Hadi menggendong tubuh ayah di bahunya. Oba’ Hadi tidak menghiraukan darah yang terus mengalir ke tubuhnya. Membasahi bajunya. Dia tetap membawa tubuh ayah hingga sampai ke rumah.
Setelah sampai di rumah, Oba’ Hadi merebahkan tubuh ayah di amperan. Ibu yang sudah menunggu di depan pintu menjerit ketika menyaksikan tubuh ayah sudah tidak bernyawa lagi. Ibu goncang tubuh ayah. Meronta-ronta di sampingnya.
Aku yang berada disamping ibu hanya terpaku, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Menatap semua orang yang berdatangan melayat ke rumahku. Aku tidak bisa menerka raut wajah mereka yang datang bagai semut. Hampir semua dari mereka mengelus rambutku dan memelukku erat-erat. Tidak sedikit juga, mereka memberikan berapa bilang uang kepadaku. Mata mereka berair ketika melihatku tersenyum bahagia dan berucap terima kasih.
***
“Sejak saat itu, kami sekeluarga hidup serba kekurangan,” aku menutup cerita. Sarah masih setia mendengarkan tiap jengkal ceritaku mulai dari awal. Semakin erat dia memelukku di atas tempat tidur. Lantas, dia menatap teduh ke arahku.
“Sekarang, apa kau masih tidak mau mengerti, istriku?” pertanyaan yang selalu aku lontarkan akhir-akhir ini kepadanya. Aku berharap, dia mau mengerti kondisiku yang serba salah. “Aku yakin, aku bisa mengatasi ini semua dan kau tetap bisa memelukku seperti malam ini.
Sarah menangis sesenggukan. Air matanya mengalir di dada bidangku yang sedikit berbulu. Dia kemudian mengambil tanganku dan meletakkannya di perutnya yang mengandung benihku dua bulan.
“Apa kau tidak memikirkan nasib anakmu kelak, Mas?”
Aku terkejut mendengar ucapannya itu yang begitu dekat dengan telingaku. Aku biarkan dia menumpahkan semua kemelutnya. Aku hanya terdiam sambil mengelus rambutnya yang tergerai menggelitik ketiakku.
“Dendam ini akan berlanjut sampai ada yang ingin menghentikannya. Kau bukan menuntaskan dendam ini, bila kau tetap memilih menghabisi pak Kifli. Aku tahu, kau pasti akan menang dalam carok ini. Pak Kifli sudah terlalu renta untuk menjadi lawanmu. Tentulah dengan mudah kau bisa membunuhnya. Tapi, kau fikirkan, besok atau entah kapan, Santaka, anak pak Kifli juga akan menaruh dendam yang sama terhadapmu. Sama sepetimu sekarang. Aku yakin, ini akan mewariskan dendam yang berkepanjangan. Dan terus akan berlanjut, seumuran dengan kehidupan manusia di muka bumi ini.”
Sekilas aku pandang wajahnya yang menempel rapat pada dadaku. Pada ayu matanya, aku dapat menangkap kekhawatiran seorang istri di sana.
“Seperti halnya kamu, ibuku juga mempunyai rasa khawatir yang sama terhadapku. Tapi, coba mengertilah, ini adalah harga diri warga kita. Keluarga kita akan tercoreng di mata masyarakat apabila tidak mampu menuntaskan dendam ini. Begitu hina, sayang!”
“Ya, sudahlah, terserah kamu! Kewajibanku sebagai istri sudah kupenuhi. Sekarang, bagaimana sikapmu. Aku tidak mau ikut campur terlalu banyak semua urusan lelaki.”
“Apa maksud semua perkataan kamu itu?”
“Tidak ada.”
Aku memilih diam, tidak merespon lagi. Aku tunggu kelanjutan kata-katanya. Tapi, dia juga ikut diam. Aku tatap wajahnya. Matanya terpejam. Ada bekas aliran air mata memanjang melewati pipinya. Aku hapus air mata itu.
“Istriku, betapa aku merasa tidak bisa menjadi suami yang baik buatmu. Tidak pula menjadi ayah yang baik bagi bakal calon anak kita nantinya. Aku gagal dalam pertarungan ini. Tapi, di pertarungan yang lain, yang tidak kau restui, aku telah menjadi pemenang. Tadi malam, dengan memakai baju loreng warisan ayah, aku berhasil membunuh manusia bejat itu dengan celurit besar bergagang naga. Karena kamu, aku berusaha tanpa meninggalkan jejak sedikitpun pada pembunuhan ini. Mayat lelaki renta, yang mempunyai bekas luka memanjang di pungungnya itu, aku lemparkan ke laut. Oba Hadi yang membantuku membawa mayat itu ke sana. Oba Hadi bilang, dia juga ingin membalas sakit hatinya. Dia juga tidak terima bila dendam ini belum terbalas,” ucapku pelan tanpa membangunkannya yang sudah tertidut pulas.
“Istriku, sempat aku kaget ketika kau mendatangi gudang dan mencoba membuka isi karung itu. Untunglah, kau tidak bisa membukanya. Karena di dalam karung itulah aku letakkan hati dan jantung pak Kifli untuk ku persembahkan pada ibuku yang kesepian di sana.”
Berakhir kata-kata itu, tanpa terasa air mataku jatuh. Sangat deras. Aku tidak tahu untuk apa air mata ini tercipta.
Tiba-tiba pintu digedor dari luar dengan keras sekali. Aku terkejut, begitu juga istriku yang terperanjat dari tidurnya.
“Keluar kau, keparat!” bentak Santaka dari luar. “Aku tau, kaulah yang telah membunuh ayahku. Jangan pengecut kau!” lanjutnya tidak kalah kasar.
Istriku memandang heran ke arahku.
“Inilah yang aku maksudkan, dendam warisan akan terus berlanjut hingga ada yang mau lapang dada menghentikannya. Dendam warisan akan melahirkan dendam warisan yang lain.”
Yogyakarta, Mei 2009
*) Penulis lahir di Sumenep Madura, 17 Mei 1987. Aktif menulis Cerpen, Puisi dan Esai. Pemred buletin KEJORA yang terbit di kab. Sumenep(2006-2007). Kini bergiat di Lesehan Sastra KUTUB, Yogyakarta.
No. hp. 081935135764.
Alamat: PPM. Hasyim Asy’ari, jl. Parangtritis Km 7, Dukuh Cabeyan RT. 04, Panggung Harjo, Sewon Bantul 55188 Yogyakarta.
Dendam Warisan
Maltuf A. Gungsuma
PenulisAku hanya seorang lelaki yang menjalani hidup ini dengan sederhana. Sesedarhana tidur untuk menyembuhkan kantuk dan sesederhana senyum untuk menyembunyikan luka. Ibuku pun mengajari, "Jika kau lapar di rantau, Nak, makanlah 1 gorengan dan minumlah yang banyak, niscaya akan kenyang". Ya, sesederhana itu.
0 komentar:
Posting Komentar
Saya bahagia bila Anda bersedia memberi komentar setelah membaca tulisan di atas. Terima kasih.
