Oleh Ahmad Maltup

    Suatu hari sahabatku (anggap saja namanya Tini) menghubungiku untuk menemaninya ke bioskop. Dia memintaku menjemputnya ke kosnya.

    “Kok tumben ngajak aku nonton?” tanyaku di ruang tamu kosnya sebelum berangkat.

    “Aku lagi galau nih, temanin aku ya untuk menghibur diri,” jawabnya dengan suara serak. “Ini ada dua tiket nonton film Cinta Brountasaurus. Nanti aku traktir juga dech…” lanjutnya sambil merajuk manja.

    “Kamu galau? Hahaha,” aku berkelekar meledeknya. Dia tomboy, jadi geli aku mendengar pengakuan galaunya.

    “Ayolah, jangan gitu, aku serius. Aku sedih banget nih. Dua tiket ini sebenarnya aku beli untuk aku nonton bareng dia, tapi dia malah putusin aku.”

    “Aduh, kasian banget tuan putri ini. Hehe ,” aku belum berhenti mencandainya. “Okelah, tapi beneran ditraktir nanti ya…”

    “Tenang aja, akan aku ajak kamu makan di tempat favoritmu,” bujuknya sambil menjentikkan jari.

    “Asyiiiikkkkkk…..”

    Setelah obrolan sebentar itu kami berangkat ke bioskop. Sepanjang perjalanan Tini banyak cerita tentang pacarnya yang pernah dipergokinya selingkuh dengan wanita lain. Sesekali dia sesenggukan menangis dan air matanya menetes ke kemejaku.

    “Tin, aku beli kemeja ini bukan untuk menampung air matamu lho,” candaku.

    Dia lantas tertawa dan mencubitku. Ternyata cubitan wanita cantik kerasa sakit juga ya… Hehe.

    Perjalanan terasa singkat dan kami sampai di bioskop. Tapi memang saya tidak mau menceritakan apa yang terjadi di dalam bioskop, entah tentang cerita dalam filmnya atau suasa di dalam, karena hampir tidak ada yang istimewa, Tini masih merasa murung, malah semakin menjadi-jadi kegalauannya. Yang menarik bagiku saat dia meminjam androidku untuk buka akun fb-nya. Katanya kuota internet punyanya lagi kosong sejak kemarin.

    Aku mendapati dia senyum-senyum sendiri setelah buka fb-nya. Kadangkala dia tertawa terpingkal-pingkal. Sesekali ngetik kata-kata dengan terburu-buru dan tertawa terpingkal-pingkal lagi. Karena aku penasaran, maka aku tanyakan ada apa gerangan.

    “Ini lho ada cowok lucu banget, padahal aku update status galau,” tuturnya menjelaskan. “Dia selalu beri komentar disertai gambar yang lucu-lucu. Coba liat ini nih, lucu kan?”

    Aku melihat apa yang ditunjukkannya. Ya, gambar-gambar itu memang lucu disesuaikan dengan konten komentarnya. Lelaki itu sepertinya berusaha menghibur Tini dengan gambar-gambarnya yang lucu. Akhir-akhir ini memang lagi trend gambar-gambar lucu disertakan dalam sebuah komentar di status jejaring sosial ini. Kebanyakan gambar-gambar itu hasil editan sedemikian rupa untuk memunculkan unsur humornya.

    “Jangan-jangan kamu galau bukan karena putus cinta ya, tapi gak punya kuota internet seharian kemarin? Hahaha,” kembali aku mencandainya.

    Dia tertawa terbahak-terbahak, “Bisa jadi, bisa jadi, no internet no happy..!!” Hmmm, internet memang punya cara tersendiri membuat orang bahagia.

    Nah, itu cerita tentang sahabatku, sekarang aku akan ceritakan tentang diriku sendiri yang LDR dengan pacarku di Sidoarjo.

    Namanya Devy Fransisca, dia pacarku yang kesekian kalinya (hehe). Aku berharap dia yang terakhir bagiku dan akan menemaniku sampai maut memisahkan kami (so swiitttt..). Dia kuliah di salah satu kampus negeri di Surabaya, sedangkan aku kuliah di Jogja. Jurusan yang sama yang membuat kami kenal dan bertemu, yaitu sama-sama jurusan Ilmu Perpustakaan.

    Singkat cerita, kami jadian dan sepakat menjalin pacaran jarak jauh alias LDR. Ya, resiko pacaran jarak jauh sudah jelas; jarang bertemu dan gampang bersitegang dengan kecurigaan pada masing-masing pasangan yang sering muncul. Satu hal yang paling penting dari semua itu adalah saling percaya. Tapi kepercayaan kadangkala sirna ketika tidak saling memberikan perhatian, misal saling berkomunikasi (baik melalui layanan sms atau telfon) atau bertatap muka melalui jaringan internet. Ya, aku seringkali mengajaknya untuk webcaman ketika rindu sudah tidak cukup diobati dengan hanya sekedar mendengar suaranya di telfon.

    Pada mulanya aku mengenalnya lewat FB dan mengajaknya kenalan lebih jauh lagi dengan “jurusan yang sama” menjadi senjata. Ya, aku memintanya tukeran nomer HP dan Pin BB. Sejak saat itu kami inten berkomunikasi baik melalui telfon, WA atau dengan BBM-an ria. Hampir tiada hari tanpa aku menyapanya dan mendengar suaranya yang merdu sampai aku menyatakan kalau aku mencintainya dan diapun menerimaku.

    Entah apa yang ada di benakku waktu itu sampai aku memutuskan untuk menjalin hubungan jarak jauh bersamanya, padahal aku belum pernah melihatnya langsung. Tapi yang pasti aku merasa nyaman ketika ngobrol dengannya di dunia maya, merasa dekat dan merasa dirinya ada dalam jiwaku. Bagaimana tidak, setiap aku bangun tidur dia sudah mengetuk pintu hatiku dengan suaranya yang merdu. Oh, dia selalu menemani hari-hariku; kata-katanya dan suaranya seakan sebuah gumpalan asap yang membentuk tubuh dan wajahnya seraya tersenyum padaku.

    Hari terus berlalu dan cinta kami semakin membuncah dalam hati. Keinginan bertemu terus menghantui tapi kesibukan kami masing-masing tidak memungkinkan hal itu. Maka kami kecanduan webcaman setiap kali kerinduan hanya bisa diobati dengan tatap muka. Memang benar, dengan itu aku bisa melihat langsung senyumnya, rambutnya dan garis-garis indah di wajahnya.

    Pada suatu hari, di akhir bulan Juli 2013 (seringkali mahasiswa perantau menyebut akhir bulan dengan istilah “tanggal tua” hehe), kuota internetku habis sedangkan uangku hanya cukup untuk makan saja. Terpaksa aku tidak beli kuota internet hari itu dan minta maaf pada Devy. Dia memaklumiku tapi aku merasakan kesedihannya dengan suaranya yang parau. Aku berusaha menghiburnya dengan mengirim kata-kata lucu padanya, tapi tetap saja hari itu serasa hambar, sepi dan menggelisahkan. Saat yang menjemukan ketika malam tiba, kesepian menyeruak ke dalam kamar. Aku matikan laptopku, merebahkan badan di atas kasur dan memandangi langit-langit kamar, membayangkan wajahnya ada disana lagi tersenyum padaku. Sangat menyedihkan hanya bisa membayangkan dirinya, padahal bayangan itu hanya sebentar kemudian mengabur dan entah pergi kemana.

    Tiba-tiba hp-ku bunyi, ada pesan masuk dari Devy, “Sayang, besok aku ada rezeki, nanti aku isikan pulsa ke nomermu untuk kuota internetmu,” begitu isi sms-nya.

    “Kenapa harus begitu, sayang?” aku membalas sms-nya.

    “Aku selalu kangen sama kamu, sayang. Aku tidak kuat kalau harus memendam rindu sampai awal bulan.”

    “Aku juga, sayang, bagiku no internet no happy.”

    Tiba-tiba aku teringat pada kakakku di rumah. Dia punya anak perempuan yang masih duduk di kelas 2 SMP, namanya Nia. Ibunya memberikan fasilitas laptop beserta modem padanya. Bahkan telepon genggamnya juga sudah jenis android melebihi punyaku.  Aku mengerti, pasti dia juga merasakan seperti yang aku rasakan; kebahagiaan yang terhingga ketika berselancar ria di sosial media (sosmed), apa lagi ketika berkomunikasi sama orang yang memikat hatinya. Waktu seakan berlalu begitu cepat dan waktu belajarnya pasti akan terganggu.

    Aku seringkali mengingatkan pada kakakku bagaimana mengajarkan berinternet secara sehat pada Nia dan menyarankan untuk selalu mengecek aktivitas Nia di internet. Aku juga mencoba selalu memonitor semua akun jejaring sosmidnya. Ketika ada suatu hal yang tidak wajar mengenai foto yang dia upload dan lelaki asing yang mendekatinya, aku mencoba memberikan nasihat secara halus padanya untuk tidak terlalu percaya pada orang asing yang baru dikenalnya. Aku saja yang sudah dewasa bisa menjalin hubungan tanpa ketemu terlebih dahulu apa lagi dirinya yang baru saja dewasa dengan kondisi yang masih labil. Bisa jadi, dia juga seperti Devy yang mau mengisikan pulsa pacarnya yang belum pernah ditemuinya sama sekali. Sangat ironis kalau misalnya lelaki itu hanya ingin memanfaatkan Nia saja, tidak sepertiku yang benar-benar mencintai Devy (memang realitasnya seperti itu,,hehe).

    “Tapi kamu tidak akan mengecewakanku kan, sayang? Tidak hanya memanfaatkanku?” Devy balas lagi sms-ku seakan-akan mendengar apa yang aku pikirkan sekarang.

    “Iya sayang, aku sungguh mencintaimu dan ingin menjadikanmu istriku. Amiin.” Tutup sms-ku malam ini.


Handphone cerdas atau biasa disebut smartphone sudah menempati sudut tertentu di hati masyarakat dari berbagai penjuru dunia ini. Kebutuhan masyarakat untuk memproleh informasi secara cepat, efisien dan efektif menjadikan manusia merasa nyaman dengan smartphone. Cukup dengan membawa satu perangkat smartphone saja, manusia dimanjakan dengan berbagai fitur di dalamnya untuk memenuhi segala macam kebutuhan informasi, berinteraksi, dan lain sebagainya.
Smartphone bukan hanya sebagai penunjang kebutuhan berkomunikasi saja, tapi banyak fungsi lain yang lebih menarik yang didapat dari perangkat ini. Kita juga dimanjakan dengan hiburan permainan (game), kebutuhan bisnis, jelajah internet untuk mengakses informasi, bersosial media serta berbagai fungsi lainnya.





         Melihat respon masyarakat yang sangat tinggi terhadap perangkat mobile smartphone itu lah yang melatar-belakangi OPPO Electronic Corp, Ltd ikut andil dalam meramaikan pasar smartphone. Mungkin banyak masyarakat khususnya di Indonesia yang tidak tahu tentang Sejarah Perusahaan Oppo Electronic. OPPO Electronic Corp, Ltd pertama kali didirikan pada tahun 2004 sebagai produsen elektronik yang beralamat di Dongguan, Guangdong, China. Sebelum merambah ke teknologi smartphone, OPPO memproduksi peralatan elektronik seperti MP3 Player, Portable Media Player, LCD TV, eBook, DVD, dan Disc Player. Barulah pada tahun 2008 OPPO mulai menggarap pasar smartphone dengan terus mengikuti teknologi terbaru dengan kualitas terbaik dan paling user friendly.






Smartphone OPPO merupakan sebuah merek internasional terdaftar yang berpengalaman mengantarkan produk-produk berkualitas tinggi ke pelanggannya. Pada bulan April tahun 2013 ini OPPO untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di pasar Indonesia secara resmi. Sebelum memasarkan produknya ke Indonesia, OPPO terlebih dahulu melebarkan sayapnya ke beberapa negara seperti, Amerika, Vietnam, Thailand, Rusia, dan Qatar. Sejak saat itu OPPO terus melakukan promosi dalam rangka memperkenalkan kualitas brandnya melalui iklan TV, Internet, Media Cetak dll. Produk smartphone unggulan OPPO yaitu, OPPO Find 5, Oppo Find Way U7015, dan OPPO Find Piano. Sementara yang paling anyar, OPPO N1, telah dilaunching di Indonesia pada 16 Oktober lalu yang diselenggarakan di gedung Ritz Carlton Pacific Place Jakarta.










Bila kamu suka berfoto-foto ria, senang berselancar ria dengan internet, cinta teknologi canggih, OPPO N1 menjawab cintamu. Saya tidak membual, inilah fakta. Coba kita lihat spesifikasi dan fitur-fitur smartphone ini; begitu canggih, pintar, dan memanjakan. Inilah fitur unik dan menarik dari OPPO N1 yang akan mampu buat kita geleng-geleng kepala akan kepintarannya menjawab cintamu.

1. Spesifikasi Gahar
Oke, saya awali dari spesifikasinya. Tidak tanggung-tanggung OPPO N1 hadir dengan spesifikasi gahar yang buat semua orang tercengang. Coba bayangkan, dengan spesifikasi prosesor Snapdragon 600 berkecepatan clock 1,7 GHz yang dipadukan dengan chip grafis 320 serta penggunaan RAM sebesar 2 GB sungguh luar biasa. Dengan respon kecepatan tinggi seperti ini, tangan kita akan dilatih untuk lebih lincah mengoperasikannya.
Walaupun tanpa tambahan slot Micro SD, memori internal yang ditawarkan sebesar 16 GB dan 32 GB, tidak akan membuatmu kekurangan untuk menyimpan data, lagu dan foto. Positifnya, dengan hanya menggunakan memori internal saja membuat kinerja OPPO N1 lebih stabil.
Sedangkan di bagian layar, kita disuguhi pemandangan yang sangat cantik. OPPO N1 menegaskan kategori phablet yang dimasukinya lewat ukuran layar berjenis IPS dengan bentang 5,9 inch yang telah mendukung resolusi full HD (1920x1080 pixel). Layarnya super sensitif, mengizinkan pengguna untuk mengoperasikannya, meski sedang menggunakan sarung tangan dan pena.





2. Sensor Kamera
Sudah kubilang dari tadi kalau OPPO N1 akan selalu menjawab cintamu. Bagi yang suka foto-foto, bukan hanya suka tapi cinta banget misalnya, OPPO N1 siap memanjakanmu dengan hasil jebretan yang memuaskan. Ingat, OPPO N1 tak cuma mengandalkan sensor 13MP tapi juga dengan aperture sangat lebar di kameranya, yakni f/2.0. Bukaan lebar ini menguntungkan pengguna saat memotret di kegelapan. Jadi tidak ada masalah walaupun Anda mau foto-foto di tempat-tempat yang kurang pencahayaan pada malam hari. Seru kan...???





Eiiiitts, bukan hanya itu saja, lensa OPPO N1 sendiri tersusun dari 6 elemen. Inilah ponsel Android pertama yang memiliki elemen lensa sebanyak itu. Anda tahu, dengan 6 elemen ini akan mengurangi efek blur pada hasil jebretan Anda saat kondisi memotret bergerak. Dalam artian, makin banyak elemen, maka makin baik koreksi untuk distorsi, aberasi kromatik, dan lain-lain.






3. Kamera Putar
Kali ini OPPO N1 akan menyentuh hati kamu yang suka narsis. Coba lihat gambar di bawah ini, OPPO N1 benar-benar membuktikan keseriusannya dengan menghadirkan inovasi yang tak nyata hebat tapi juga unik. Sangat unik, karena hanya smartphone OPPO N1 yang mempunyai kamera yang dapat diputar hingga 206 derajat ke arah depan. Dengan begitu, selain berfungsi sebagai kamera utama, kamera yang juga ditemani flash dual LED ini sekaligus dapat berfungsi sebagai kamera depan. Artinya, Anda bisa narsis-narsisan sendiri di depan kamera tanpa nunggu teman untuk minta bantuan. Apa lagi ditambah dengan fitur O-Click yang bisa digunakan untuk penggunaan jarak jauh serta kendali, termasuk untuk mengambil gambar.






Perlu sahabat bloger ketahui, O-Click merupakan remote control berbasis bluetooth. Perangkat kecil tersebut dinamakan O-Click. Perangkat yang sedikit lebih besar dari koin Rp. 1.000,- (lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini). Alarm akan otomatis menyala saat smartphone berada di luar jangkauan lebih dari 15 meter dari O-Click. Tak hanya itu, smartphone ini akan berdering sendiri apabila ditekan sehingga memudahkan pengguna mengetahui letak OPPO N1 berada. Hayooo, yang suka pelupa menaruh barang, terutama handphone, Anda tidak perlu repot-repot lagi untuk misscall dengan menghubungi nomer ponsel Anda (kalau tidak hafal nomernya, bisa berabe kan..??hehe). Canggih bukan? Apa gak ngiler tuh? ^_^







Oiya, ada yang terlupakan. Mungkin Anda merasa khawatir tentang kamera putar ini, "Apakah tidak cepat rusak apabila sering diputar?" Tenang saja, OPPO N1 mengerti kerisauan Anda. Kemampuan swivel kamera OPPO N1 sanggup bertahan hingga 100 ribu kali rotasi. Artinya, penggunanya dapat dengan bebas merotasi kamera OPPO N1 sebanyak 40 kali sehari selama 7 tahun. Kalau masih kurang lama, tenang saja, sekarang sudah tersebar service center OPPO di beberapa kota di Indonesia, apa lagi 7 tahun lagi. ^_^

4. Punggung Sentuh
Kalau tadi membahas tentang O-Click, sekarang saya akan bahas tentang O-Touch. Kalau kita pernah dengar lagu Touch My Heart Ost. Film Super Hap Thailand, tapi OPPO N1 disentuh punggungnya untuk menjawab cintamu. Ya, di punggung smartphone OPPO N1 terdapat kotak segi empat---terinspirasi dari touchpad laptop--- yang bisa digunakan untuk mengambil foto, browsing, membaca dan mendengarkan lagu. Panel O-Touch namanya.






Fitur O-Touch ini terletak di bagian belakang smartphone yang bisa mengenali sentuhan serta gestur yang dilakukan oleh jari pengguna. Kalau belum merasakan fitur dalam smartphone ini, coba bayangkan, bagaimana enaknya membaca dengan tidak terhalang tangan kita saat menyentuh layar. Sungguh luar biasa, pengguna akan sangat menikmati membaca informasi yang ada di layar smartphone dengan mudahnya melakukan scroll ke atas, bawah dan ke samping dengan menggeser jari lewat punggung smartphone.









Selain spesifikasi dan fitur-fitur di atas, OPPO N1 juga membuat tampilan sistem operasi sendiri yang dinamakan ColorOS yang dikembangkan selama 10 bulan. Tampilan tersebut berbasis Android 4.2 (Jelly Bean). Seperti dikutip dari Engadget, pengembangan ColorOS melibatkan 243 developer, 20.000 penguji, dan 43 paten baru. Dengan begini, apakah belum cukup membuat Anda ngiler untuk mempunyai smartphone yang super cerdas ini? OPPO N1 menjawab cinta dari masyarakat dunia, itu alasan saya (Anda juga tentunya) untuk mendapatkan smartphone OPPO N1. Mungkin perlu dipertegas lagi, saya suka gaya loe OPPO N1...!!!











Oleh Ahmad Maltup*
(Tulisan ini dimuat di Harian Jogja, 19 Juli 2013)

Pertanyaan pada judul tulisan ini sebenarnya muncul dari seorang pengemis yang sempat ngobrol dengan penulis pada beberapa waktu lalu di sudut kota pelajar ini. Pengemis itu membela diri dengan mengatakan, lebih baik menjadi pengemis dari pada menjadi koruptor. Ia beralasan, menjadi pengemis lebih terhormat, mendapatkan uang halal dari hasil meminta tanpa paksaan pada para dermawan, sedangkan koruptor sebaliknya, mengambil uang rakyat secara diam-diam dengan menggunakan kekuasaannya. Sebuah argumentasi yang masuk akal, walaupun ada beberapa kalangan menganggap pengemis meresahkan, mengganggu ketertiban lalu lintas, mengotori, dan mengganggu pemandangan kota. Pemerintah juga menginginkan, pengemis harus direhabilitasi dengan melakukan razia rutin, terutama pada bulan Ramadan ini.
Akan tetapi, ketika kita sodorkan hal serupa pada koruptor, tentu ia tidak akan mau menjadi pengemis. Kalau boleh milih, ia akan memilih menjadi koruptor dari pada pengemis. Dengan asumsi, menjadi koruptor lebih menjanjikan kesejahteraan dari pada pengemis yang hanya mengharap iba dari para dermawan. Dalam hal ini juga yang dikedepankan gengsi, dimana seorang koruptor ingin status sosial lebih tinggi dari sebelumnya dengan memanfaatkan kekuasaannya. Mumpung jadi penguasa dan mumpung ada kesempatan untuk melakukan korupsi, kenapa tidak?
Pada hakikatnya, tidak ada yang mau jadi pengemis atau koruptor. Keduanya, secara psikologis, merupakan profesi yang akan membuat orang yang menyandangnya akan merasa malu. Siapapun akan merasa malu ketika dipanggil dengan sebutan pengemis atau koruptor. Akan tetapi, kenapa semakin menjamur kedua profesi ini di sekeliling kita? Ini yang menjadi PR kita bersama untuk menjawabnya.
Mari kita analisis sedikit tentang keduanya. Ternyata kalau kita lebih mendalami lagi terhadap realitas yang ada di lapangan, kita akan menemukan fakta menarik bahwa, menjadi pengemis atau koruptor sudah menjadi pilihan hidup. Seorang pengemis terpaksa memilih menadah pada orang lain karena dituntut keadaan yang memaksanya, seperti menjadi petani yang tidak menentu penghasilannya, menjadi buruh pabrik yang tidak mencukupi kehidupan sehari-hari, atau malah menjadi pemulung yang hidup serba kekurangan. Hampir sama dengan pilihan menjadi koruptor, ia seakan terpaksa melakukannya. Biaya kampanye sebelum ia menjadi penguasa merupakan hal pertama yang diperhitungkan. Kemudian budaya glamor akan tercipta dengan sendirinya ketika status sosial semakin meningkat, biaya hidup sehari-hari meningkat tajam. Terlebih lagi, banyak hal yang disebabkan oleh masyarakat itu sendiri, seperti kebiasaan orang-orang terdekat meminta sumbangan pada pejabat publik (penguasa). Walaupun tidak menutup kemungkinan, kebiasaan korupsi tersebut menjadi kecanduan untuk melakukannya berulang kali.

Fenomena Pengemis
Jurgen Habermas berpendapat bahwa jaminan kesejahteraan seluruh rakyat merupakan hal pokok bagi negara modern. Selanjutnya menurut Habermas, jaminan kesejahteraan seluruh rakyat yang dimaksud diwujudkan dalam perlindungan atas, “The risk of unemployment, accident,  ilness, old age, and death of the breadwinner must be covered largely through welfare provisions of the state”. Hakekatnya, hasrat semua manusia di dunia ini mengharapkan terjaminnya rasa aman, ketentraman, dan kesejahteraan agar tidak jatuh ke dalam kesengsaraan. Alasan tersebut dapat digambarkan sebagai motor penggerak sekaligus tujuan bagi manusia untuk senantiasa mengupayakan berbagai cara  demi mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Menjadi pengemis menjadi salah satu pilihan terpahit untuk mencapai kesejahteraan. Karena sudah menjadi rahasia umum, ternyata menjadi pengemis sangat menjanjikan di negara yang mayoritas penduduknya masih menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual ini.
Bukan hanya di pelosok desa, pengemis juga tersebar di sudut-sudut kota, terutama di tempat keramaian. Fenomena ini tidak bisa dipungkiri, sudah menyebar di kota-kota besar, termasuk di Yogyakarta. Sudah banyak hal yang dilakukan untuk menanggulanginya, tapi para pengemis selalu bermunculan seperti laron di musim penghujan, terutama saat memasuki bulan Ramadan. Di bulan ini para pengemis sangat paham akan kondisi psikologis masyarakat yang akan ringan tangan memberi sedekah. Bahkan, dari berbagai daerah berbondong-bondong ke kota untuk mengais rezeki. Ada beberapa kalangan mensinyalir, terdapat EO (Event Organizer) yang mengorganisasi para pengemis tersebut yang juga dapat keuntungan dari para pengemis yang disebar di beberapa titik daerah strategis. Penentuan daerah strategis ini berdasarkan keramaian dan tempatnya, seperti pasar dan masjid-masjid.

Fenomena Koruptor
Fenomena koruptor ternyata tidak jauh berbeda dengan pengemis. Satu koruptor ditangkap, bermunculan beberapa koruptor, bahkan dari pejabat dan elite politik yang seharusnya memberikan contoh tergiur untuk melakukan korupsi. Sebut saja dari mentri, anggota dewan, gubernur, bupati, walikota, pejabat birokrasi, bea cukai, pejabat perbankan, pejabat pajak, dan lain sebagainnya beramai-ramai melakukan korupsi. Tentu KPK tidak akan menjadi pengangguran dengan fenomena seperti ini.
Banyak upaya untuk memberikan efek jera para koruptor, tapi hal itu seakan tidak berefek apa-apa, korupsi berjalan terus. Misalnya, upaya KPK dengan membuat baju khusus tahanan koruptor, sampai sekarang sudah kesekian kalinya mengalami moderisasi. Mahfud MD, mantan Ketua MK, juga pernah menyarankan agar para koruptor dibuatin hutan koruptor. Tapi yang usulan ini belum direalisasikan, sama halnya dengan aspirasi rakyat yang menginginkan koruptor dihukum mati.
Baik pengemis maupun koruptor sama-sama menjamur di negeri ini. Hal ini menjadi tanggungjawab di pundak pemerintah untuk menanggulanginya atau hanya sekedar meminimalisir keberadaannya. Tapi bagaimanapun usaha pemerintah kalau tidak didukung oleh masyarakat, hal itu tidak akan berjalan maksimal. Untuk pengemis, masyarakat memberikan dukungan dengan tidak memberi sedekah di jalan raya. Sudah ada beberapa yayasan sosial yang menerima sumbangan. Untuk koruptor, masyarakat bisa membantu dengan memberikan informasi bila menemukan tindak pidana korupsi di sekitarnya.

Cerpen Maltuf A. Gungsuma
 (Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi No. 23 Th. 65 Minggu II September 2012)

Aku tahu kau mencintaiku. Menyayangiku apa adanya. Ingin menjadikan aku ayah bagi anak-anakmu. Tapi jujur, aku cemburu pada beo yang selalu kau ajak bersenda gurau di waktu soremu. Kau selalu berkilah ketika aku ajak jalan ke pantai menikmati sunset. Waktu soremu tidak pernah kau berikan padaku. Kau biarkan kesunyian menemani soreku di balik jendela.
Nila, aku mencintaimu. Menyayangimu apa adanya. Persis, aku juga ingin menjadikanmu ibu bagi anak-anakku. Tapi aku tidak suka kau membagi cintamu pada beo. Menjadikan aku yang kedua yang kau cintai. Bahkan, sepertinya kau sudah melebur dalam sayapnya. Beterbangan dalam kehidupannya. Menjadi betina bagi burung peliharaanmu itu.
Aku semakin tidak mengerti dengan sikapmu. Kau ingin aku memahamimu, tapi kau tidak pernah memahamiku. Satu sore aku ajak kau menemani kejenuhanku, kau tidak mau. Malah kau menawariku bermain dengan beo kesayanganmu itu. Padahal, beo merupakan burung yang paling aku benci, melebihi benciku pada Maya, perempuan yang pernah menghianati cintaku itu. Burung beo menjadi biang kehancuran keluargaku. Karena burung itu ayah menceraikan mama, Nila!
Ah, kejadian itu sangat aku inginkan untuk melupakannya. Membuang jauh-jauh kenangan pahit itu. Tapi tidak mungkin bila kau selalu merawat burung beo. Aku akan selalu mengingat mata merah ayah saat bertatapan dengan mata burung itu. Terngiang kembali bertengkaran malam itu bila mendengar  kicaunya. Apalagi sampai menemani kita di kamar pengantin nanti. Aku tidak bisa membayangkan malamku bersamamu seperti apa.
*****
Seperti sore itu, aku mengetuk pintu, seperti biasa Nila tidak membukakannya sampai aku mengetuk berkali-kali. Andai pintu tidak terkunci, mungkin dia akan tetap di depan sangkar burung beonya itu sambil teriak, “Masuk….tidak dikunci…”
Aku masuk dan Nila kembali lagi duduk menghadap sangkar burungnya. Sesekali burung itu berbunyi atau lebih tepatnya bersuara layaknya manusia dan sesekali juga Nila menyahutnya. Seakan mereka memperbincangan sesuatu. Tapi entah . .!
“Sampai kapan kau seperti ini Nila?”
“Sampai takdir memisahkan kami,” jawabnya ketus tanpa menoleh ke arahku yang sudah duduk di sofa di ruang tamunya. Burung beo itu berada dalam sangkar, tepat di samping kolam kecil sekitar 2 meter dari sofa tempatku duduk. Sangkar kayu jati dengan cat merah hati. Batu besar berbentuk balok menyangga sangkar itu.
“Emang apa istimewanya burung itu bagimu Nila?” aku coba menenangkan gejolak dalam hatiku.
“Lebih istimewa dari pada kau yang selalu mengharap kesenangan dariku,” jawabnya datar. “Burung ini memberikanku kebahagiaan yang tak terkira dan tidak mengharapkan balasan dariku. Tidak seperti kau yang selalu menginginkanku menemanimu setiap saat. Padahal hanya sore hari aku memintamu untuk mengerti aku.”
Aku mendesah. Begitu sulitnya mengerti jalan pikirannya. Hatinya begitu dalam untuk diselami. Aku belum menemukan rumah cintanya yang diperuntukkan untukku. Hal yang selalu membuatku cemas akan cintanya.
“Nila, andai kamu diberi pilihan…”
“Pilihan apa?” dia memotong pembicaraanku dan menoleh ke arahku.
“Apabila pada suatu waktu aku sakit bersamaan dengan burung beo itu, yang mana akan kamu dahulukan untuk menolongnya?”
Pertanyaan klise yang tidak menarik sebenarnya, tapi bagaimanapun aku harus mengutarakannya. Nila mengerutkan dahinya dan menatap tajam mataku. “Andai kamu yang tidak punya akal pikiran, bukan burung beo ini, maka kamulah yang akan aku tolong terlebih dahulu. Karena aku berpikir, kalau punya akal pikiran maka ia lebih mengerti bagaimana menjaga diri.”
Aku tersentak mendengar jawabannya. Tanganku gemetar dan mukaku memerah. Aku remas gantungan kunci motor yang ada di genggaman tanganku. “Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Besok aku tunggu kamu di tempat biasa,” tukasku lekas beranjak dari tempat dudukku.
Nila menoleh sebentar kemudian menganggukkan kepala pelan. “Aku harap kau mengerti, bagaimana caraku menyayangimu,” ucapnya pelan. Tapi aku tetap melangkah keluar meninggalkannya.
*****
Kejadian malam itu masih terasa segar terekam di memori otakku. Aku menganggapnya; itu semua gara-gara burung beo.
“Berarti benar dengan apa yang selalu digunjingkan tetangga tentang Mama,”suara samar ayah terdengar sampai ke kamarku. Aku kecil berusaha mendengarnya lebih jelas lagi. Menyingsingkan selimut dan mendekati pintu. Menempelkan telinga pada pintu.
“Maksud Ayah?” suara mama.
“Siapa Reno itu Ma?” suara bentakan Ayah membuat bulu kudukku merinding.
“Reno itu teman kerjaku, Yah. Tapi…”
“Mama bohong!” ayah memotong pembicaraan mama. “Tidak mungkin seorang lelaki berkunjung ke rumah perempuan pada jam kerja tanpa ada maksud tertentu. Apa lagi hanya sendirian.”
“Jangan seperti anak kecil, Yah! Itu hanya seekor burung. Reno jenguk aku tadi siang bersama istrinya. Tidak sendirian,” mama berusaha meyakinkan ayah.
“Burung beo itu menemaniku sejak kecil, Ma, dan tidak pernah bohong padaku. Setiap ada orang yang bertamu ke rumahku, ia selalu beritahukan padaku. Tidak mungkin beo itu cuma menyebut hanya satu nama saja kalau memang berdua,” ayah terus menyudutkan mama.
“Aku kecewa sama Ayah yang lebih percaya pada burung itu,” mama mengucapkan itu dengan suara serak.
“Memang, burung itu lebih aku sayangi dari pada Mama.”
Suasana jadi hening ketika kata-kata itu meluncur dari mulut ayah. Samar-samar terdengar tangis sesenggukan. Suara mama. Ada suara hantaman ke tembok, erangan ayah dan barang-barang berjatuhan di lantai. Pecah.
“Kalau begitu, Ayah harus memilih antara aku dan burung beo itu,” suara lirih itu cukup membuatku tersentak.
*****
Sejak kejadian itu aku tidak lagi merasakan sarapan pagi bersama dengan kehangatan sebuah keluarga yang harmonis. Aku pergi bersama mama meninggalkan rumah kelahiranku. Sedangkan ayah seakan pasrah dan tidak menggugat keputusan Hakim ketika hak asuhku diberikan sama mama.
“Tapi bagaimanapun ceritamu, aku tetap mencintai beoku,” tukas Nila tanpa menoleh ke arahku. Kami duduk di taman kampus, tepatnya di atas bangku panjang. Sebagian mahasiswa juga berada di taman, menggunakan waktu istirahat  dengan aktifitasnya masing-masing.
“Lalu dimanakah cintamu yang akan diberikan padaku?”
Mendengar pertanyaan itu dia lantas menatapku. Sorot matanya tajam menyelami danau mataku. “Aku meragukan cintamu, Burhanuddin,” ujarnya sinis dengan menyebut nama panjangku.
“Maksudmu?”
“Kau bukan mencintaiku tapi hanya ingin bersenang-senang denganku. Kau selalu menginginkan kesenangan dari apa yang tidak bisa aku berikan padamu. Padahal, mencintai itu bukan untuk mencari kesenangan tapi mencari penderitaan yang mau disulap menjadi kesenangan.”
Setelah bicara seperti itu ia langsung pergi, meninggalkanku sendiri di bangku panjang dengan pikiran tidak menentu. “Benarkah apa yang telah ia katakan tadi? Apakah aku tidak sungguh-sungguh mencintainya? Tapi apa salahnya selalu ingin bersama orang yang dicintai?” pertanyaan beruntun manuver di kepalaku. Hingga tidak terasa aku rebah di bangku panjang dan tertidur pulas.
*****
Aku tidak mengerti, kenapa sore ini Nila mau berkunjung ke rumahku. Ia seakan tergesa-gesa untuk sampai di rumahku. Ia hanya telpon sebentar menanyakan keberadaanku di rumah. Cepat sekali ia sampai di rumahku dan mengetuk pintu.
“Boleh kita ngobrol tidak di ruang tamu ini?” tanya Nila dengan nada menggantung.
“Boleh,” jawabku cepat. “Aku ganti baju dulu, nanti kita ke pantai yang sering aku idamkan menikmatinya bersamamu.”
“Tidak, aku tidak ingin di sana. Aku ingin di kamarmu saja,”ucapnya datar. Sontak aku kaget.
Aku terpaksa mengiyakan dan menuruti kemauannya.
“Aku bingung mau memulai dari mana cerita ini biar kamu mengerti kalau cinta bukan hanya saling menyayangi tapi juga saling memberi kebahagiaan dan mengerti kegundahan masing-masing,” ucap Nila parau, yang sebenarnya sudah aku sebut sebagai pembuka ceritanya.
Aku hanya terpaku menatapnya tanpa memberikan tanggapan ucapannya itu.
“Burung beo itu selalu memberikan warna dalam hidupku setelah kepergian ibuku. Ia selalu menemani soreku dengan suaranya yang parau dan sayu. Ia menjadi ibuku yang menimang-menimang anaknya saat masih bayi. Kata-katanya di waktu sore adalah kata-kata ibuku saat meninak-bobokkan aku. Kata-katanya di waktu sore adalah kata-kata ibuku saat menyuap bubur pada mulut mungilku dulu. Kata-katanya di waktu sore adalah kata-kata ibuku saat memberikan rayuan pada tangisku.”
“Tapi aku tidak tahu dan aku membencinya,” aku menyela.
“Aku tidak pernah bosan dengannya seperti ia tidak pernah bosan menghiburku di setiap sore. Burung beo itu selalu mengingat riuh resah ibu maka tidak ada alasan untuk aku tidak mengingatnya. Rinduku pada ibu terobati dengan hanya bersenda gurau bersamanya. Tetapi sekarang sudah berbeda, burung beo telah tiada. Tidak ada lagi yang mengajakku mengingat ibu. Tidak ada lagi suara ibu memanggilku.”
“Maafkan aku Nila, aku tidak tahu semua itu,” ucapku terbata.
“Jelas, kamu tidak tahu, karena yang ada di pikirkanmu hanya dirimu sendiri!” teriaknya. Matanya menyalak.
Aku kaget dengan teriakan lantangnya itu. Meja belajarku dibanting. Buku-buku dan peralatan tulisku berserakan. Baju-bajuku dikeluarkannya dari lemari gantungku. Aku lebih kaget lagi ketika ia menyeretku saat hendak menghalanginya dan menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Aku terpelanting.
“Sekarang lakukan apa yang kau inginkan Burhan.....!!” Nila menanggalkan pakaiannya satu-persatu ke lantai sampai tidak ada seutas benangpun yang melekat di tubuhnya. “Ini kan yang kamu harapkan sampai kau tega meracuni burung beoku?” ucapnya sinis.
Aku sadar kalau aku salah. Maafkan aku Nila.

Yogyakarta, 2011-2012