Tampilkan postingan dengan label Minggu Pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minggu Pagi. Tampilkan semua postingan

Cerpen Maltuf A. Gungsuma
 (Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi No. 23 Th. 65 Minggu II September 2012)

Aku tahu kau mencintaiku. Menyayangiku apa adanya. Ingin menjadikan aku ayah bagi anak-anakmu. Tapi jujur, aku cemburu pada beo yang selalu kau ajak bersenda gurau di waktu soremu. Kau selalu berkilah ketika aku ajak jalan ke pantai menikmati sunset. Waktu soremu tidak pernah kau berikan padaku. Kau biarkan kesunyian menemani soreku di balik jendela.
Nila, aku mencintaimu. Menyayangimu apa adanya. Persis, aku juga ingin menjadikanmu ibu bagi anak-anakku. Tapi aku tidak suka kau membagi cintamu pada beo. Menjadikan aku yang kedua yang kau cintai. Bahkan, sepertinya kau sudah melebur dalam sayapnya. Beterbangan dalam kehidupannya. Menjadi betina bagi burung peliharaanmu itu.
Aku semakin tidak mengerti dengan sikapmu. Kau ingin aku memahamimu, tapi kau tidak pernah memahamiku. Satu sore aku ajak kau menemani kejenuhanku, kau tidak mau. Malah kau menawariku bermain dengan beo kesayanganmu itu. Padahal, beo merupakan burung yang paling aku benci, melebihi benciku pada Maya, perempuan yang pernah menghianati cintaku itu. Burung beo menjadi biang kehancuran keluargaku. Karena burung itu ayah menceraikan mama, Nila!
Ah, kejadian itu sangat aku inginkan untuk melupakannya. Membuang jauh-jauh kenangan pahit itu. Tapi tidak mungkin bila kau selalu merawat burung beo. Aku akan selalu mengingat mata merah ayah saat bertatapan dengan mata burung itu. Terngiang kembali bertengkaran malam itu bila mendengar  kicaunya. Apalagi sampai menemani kita di kamar pengantin nanti. Aku tidak bisa membayangkan malamku bersamamu seperti apa.
*****
Seperti sore itu, aku mengetuk pintu, seperti biasa Nila tidak membukakannya sampai aku mengetuk berkali-kali. Andai pintu tidak terkunci, mungkin dia akan tetap di depan sangkar burung beonya itu sambil teriak, “Masuk….tidak dikunci…”
Aku masuk dan Nila kembali lagi duduk menghadap sangkar burungnya. Sesekali burung itu berbunyi atau lebih tepatnya bersuara layaknya manusia dan sesekali juga Nila menyahutnya. Seakan mereka memperbincangan sesuatu. Tapi entah . .!
“Sampai kapan kau seperti ini Nila?”
“Sampai takdir memisahkan kami,” jawabnya ketus tanpa menoleh ke arahku yang sudah duduk di sofa di ruang tamunya. Burung beo itu berada dalam sangkar, tepat di samping kolam kecil sekitar 2 meter dari sofa tempatku duduk. Sangkar kayu jati dengan cat merah hati. Batu besar berbentuk balok menyangga sangkar itu.
“Emang apa istimewanya burung itu bagimu Nila?” aku coba menenangkan gejolak dalam hatiku.
“Lebih istimewa dari pada kau yang selalu mengharap kesenangan dariku,” jawabnya datar. “Burung ini memberikanku kebahagiaan yang tak terkira dan tidak mengharapkan balasan dariku. Tidak seperti kau yang selalu menginginkanku menemanimu setiap saat. Padahal hanya sore hari aku memintamu untuk mengerti aku.”
Aku mendesah. Begitu sulitnya mengerti jalan pikirannya. Hatinya begitu dalam untuk diselami. Aku belum menemukan rumah cintanya yang diperuntukkan untukku. Hal yang selalu membuatku cemas akan cintanya.
“Nila, andai kamu diberi pilihan…”
“Pilihan apa?” dia memotong pembicaraanku dan menoleh ke arahku.
“Apabila pada suatu waktu aku sakit bersamaan dengan burung beo itu, yang mana akan kamu dahulukan untuk menolongnya?”
Pertanyaan klise yang tidak menarik sebenarnya, tapi bagaimanapun aku harus mengutarakannya. Nila mengerutkan dahinya dan menatap tajam mataku. “Andai kamu yang tidak punya akal pikiran, bukan burung beo ini, maka kamulah yang akan aku tolong terlebih dahulu. Karena aku berpikir, kalau punya akal pikiran maka ia lebih mengerti bagaimana menjaga diri.”
Aku tersentak mendengar jawabannya. Tanganku gemetar dan mukaku memerah. Aku remas gantungan kunci motor yang ada di genggaman tanganku. “Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Besok aku tunggu kamu di tempat biasa,” tukasku lekas beranjak dari tempat dudukku.
Nila menoleh sebentar kemudian menganggukkan kepala pelan. “Aku harap kau mengerti, bagaimana caraku menyayangimu,” ucapnya pelan. Tapi aku tetap melangkah keluar meninggalkannya.
*****
Kejadian malam itu masih terasa segar terekam di memori otakku. Aku menganggapnya; itu semua gara-gara burung beo.
“Berarti benar dengan apa yang selalu digunjingkan tetangga tentang Mama,”suara samar ayah terdengar sampai ke kamarku. Aku kecil berusaha mendengarnya lebih jelas lagi. Menyingsingkan selimut dan mendekati pintu. Menempelkan telinga pada pintu.
“Maksud Ayah?” suara mama.
“Siapa Reno itu Ma?” suara bentakan Ayah membuat bulu kudukku merinding.
“Reno itu teman kerjaku, Yah. Tapi…”
“Mama bohong!” ayah memotong pembicaraan mama. “Tidak mungkin seorang lelaki berkunjung ke rumah perempuan pada jam kerja tanpa ada maksud tertentu. Apa lagi hanya sendirian.”
“Jangan seperti anak kecil, Yah! Itu hanya seekor burung. Reno jenguk aku tadi siang bersama istrinya. Tidak sendirian,” mama berusaha meyakinkan ayah.
“Burung beo itu menemaniku sejak kecil, Ma, dan tidak pernah bohong padaku. Setiap ada orang yang bertamu ke rumahku, ia selalu beritahukan padaku. Tidak mungkin beo itu cuma menyebut hanya satu nama saja kalau memang berdua,” ayah terus menyudutkan mama.
“Aku kecewa sama Ayah yang lebih percaya pada burung itu,” mama mengucapkan itu dengan suara serak.
“Memang, burung itu lebih aku sayangi dari pada Mama.”
Suasana jadi hening ketika kata-kata itu meluncur dari mulut ayah. Samar-samar terdengar tangis sesenggukan. Suara mama. Ada suara hantaman ke tembok, erangan ayah dan barang-barang berjatuhan di lantai. Pecah.
“Kalau begitu, Ayah harus memilih antara aku dan burung beo itu,” suara lirih itu cukup membuatku tersentak.
*****
Sejak kejadian itu aku tidak lagi merasakan sarapan pagi bersama dengan kehangatan sebuah keluarga yang harmonis. Aku pergi bersama mama meninggalkan rumah kelahiranku. Sedangkan ayah seakan pasrah dan tidak menggugat keputusan Hakim ketika hak asuhku diberikan sama mama.
“Tapi bagaimanapun ceritamu, aku tetap mencintai beoku,” tukas Nila tanpa menoleh ke arahku. Kami duduk di taman kampus, tepatnya di atas bangku panjang. Sebagian mahasiswa juga berada di taman, menggunakan waktu istirahat  dengan aktifitasnya masing-masing.
“Lalu dimanakah cintamu yang akan diberikan padaku?”
Mendengar pertanyaan itu dia lantas menatapku. Sorot matanya tajam menyelami danau mataku. “Aku meragukan cintamu, Burhanuddin,” ujarnya sinis dengan menyebut nama panjangku.
“Maksudmu?”
“Kau bukan mencintaiku tapi hanya ingin bersenang-senang denganku. Kau selalu menginginkan kesenangan dari apa yang tidak bisa aku berikan padamu. Padahal, mencintai itu bukan untuk mencari kesenangan tapi mencari penderitaan yang mau disulap menjadi kesenangan.”
Setelah bicara seperti itu ia langsung pergi, meninggalkanku sendiri di bangku panjang dengan pikiran tidak menentu. “Benarkah apa yang telah ia katakan tadi? Apakah aku tidak sungguh-sungguh mencintainya? Tapi apa salahnya selalu ingin bersama orang yang dicintai?” pertanyaan beruntun manuver di kepalaku. Hingga tidak terasa aku rebah di bangku panjang dan tertidur pulas.
*****
Aku tidak mengerti, kenapa sore ini Nila mau berkunjung ke rumahku. Ia seakan tergesa-gesa untuk sampai di rumahku. Ia hanya telpon sebentar menanyakan keberadaanku di rumah. Cepat sekali ia sampai di rumahku dan mengetuk pintu.
“Boleh kita ngobrol tidak di ruang tamu ini?” tanya Nila dengan nada menggantung.
“Boleh,” jawabku cepat. “Aku ganti baju dulu, nanti kita ke pantai yang sering aku idamkan menikmatinya bersamamu.”
“Tidak, aku tidak ingin di sana. Aku ingin di kamarmu saja,”ucapnya datar. Sontak aku kaget.
Aku terpaksa mengiyakan dan menuruti kemauannya.
“Aku bingung mau memulai dari mana cerita ini biar kamu mengerti kalau cinta bukan hanya saling menyayangi tapi juga saling memberi kebahagiaan dan mengerti kegundahan masing-masing,” ucap Nila parau, yang sebenarnya sudah aku sebut sebagai pembuka ceritanya.
Aku hanya terpaku menatapnya tanpa memberikan tanggapan ucapannya itu.
“Burung beo itu selalu memberikan warna dalam hidupku setelah kepergian ibuku. Ia selalu menemani soreku dengan suaranya yang parau dan sayu. Ia menjadi ibuku yang menimang-menimang anaknya saat masih bayi. Kata-katanya di waktu sore adalah kata-kata ibuku saat meninak-bobokkan aku. Kata-katanya di waktu sore adalah kata-kata ibuku saat menyuap bubur pada mulut mungilku dulu. Kata-katanya di waktu sore adalah kata-kata ibuku saat memberikan rayuan pada tangisku.”
“Tapi aku tidak tahu dan aku membencinya,” aku menyela.
“Aku tidak pernah bosan dengannya seperti ia tidak pernah bosan menghiburku di setiap sore. Burung beo itu selalu mengingat riuh resah ibu maka tidak ada alasan untuk aku tidak mengingatnya. Rinduku pada ibu terobati dengan hanya bersenda gurau bersamanya. Tetapi sekarang sudah berbeda, burung beo telah tiada. Tidak ada lagi yang mengajakku mengingat ibu. Tidak ada lagi suara ibu memanggilku.”
“Maafkan aku Nila, aku tidak tahu semua itu,” ucapku terbata.
“Jelas, kamu tidak tahu, karena yang ada di pikirkanmu hanya dirimu sendiri!” teriaknya. Matanya menyalak.
Aku kaget dengan teriakan lantangnya itu. Meja belajarku dibanting. Buku-buku dan peralatan tulisku berserakan. Baju-bajuku dikeluarkannya dari lemari gantungku. Aku lebih kaget lagi ketika ia menyeretku saat hendak menghalanginya dan menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Aku terpelanting.
“Sekarang lakukan apa yang kau inginkan Burhan.....!!” Nila menanggalkan pakaiannya satu-persatu ke lantai sampai tidak ada seutas benangpun yang melekat di tubuhnya. “Ini kan yang kamu harapkan sampai kau tega meracuni burung beoku?” ucapnya sinis.
Aku sadar kalau aku salah. Maafkan aku Nila.

Yogyakarta, 2011-2012
Cerpen Maltuf A. Gungsuma*
(Dimuat di Koran Minggu Pagi, No. 52 Th 65 Minggu V Maret 2013)

Aku merasakan getaran yang maha dahsyat. Keringat dingin dari kening, kepala, dan dada bidangku mengucur deras. Kemeja liris coklatku basah kuyup. Kata-kata tulus yang keluar dari bibir Lastri tidak pernah aku sangka sebelumnya. Dia ingin aku mengambil perawannya malam ini juga. Ya, di kamarku yang berukuran 3x4 meter ini.
“Sebelum kau pergi jauh, aku ingin memberikan keperawananku padamu,” kata-kata itu diulanginya kembali.
Aku masih duduk terpaku menatapnya dari atas kasur. Aku seakan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapanku saat ini. Lastri berdiri menyandar di pintu sambil mencabut anak kuncinya. Dengan perlahan dia buka baju kaosnya. Tidak ada keraguan sedikit pun yang dia tampakkan.
“Apa kau sudah memikirkan keputusan gilamu itu, Lastri?” aku berusaha menenangkannya.
“Aku tidak mungkin memberikan harta yang sangat berharga ini padamu, kalau aku tidak memikirkan sebelumnya,” sebuah jawaban yang seakan sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Lastri.
“Lantas?”
“Aku tidak ingin memberikan keperawananku ini pada lelaki bodoh itu,” tegas Lastri dengan menatap tajam ke langit-langit kamarku. Muak. Pasti Jauhari yang dia maksud lelaki bodoh itu. Lelaki yang rencananya akan menikahi Lastri minggu depan. Lelaki yang telah mendapatkan restu dari orang tuanya.
Kini Lastri berdiri tanpa sebenangpun yang menempel di tubuhnya. Dia mendekatiku dengan raut muka memerah. Sorot matanya begitu pasrah. Sampai ketika dia ingin menanggalkan bajuku, aku menepisnya dan dorong tubuhnya perlahan.
“Lastri, pakai baju kamu!”
*****

Waktu itu pagi masih buram ketika Lastri meneleponku. Suaranya serak. Entah karena pagi yang menggigil atau ada hal lain yang menyebabkannya begitu, aku tidak tahu, tapi yang jelas dia belum pernah meneleponku sepagi ini sebelumnya.
“Aku ingin ketemu kamu, Faidi,” suara itu yang pertama kali aku dengar.
“Kenapa? Dimana?”
“Nggak apa-apa. Di tempat biasa. Sekarang juga aku tunggu disana.”
Tanpa minta tanggapanku lagi, telepon ditutup.
Aku berpikir keras. Ada apa dengan Lastri? Sudah tiga hari tidak ada kabar darinya. Sejak pertemuan terakhir hari Rabu. Hari itu dia sangat mesra memelukku. Sangat erat. Sesekali dia mengusap rambutku.
“Ternyata kamu jelek,” ledeknya waktu itu.
“Kamu lebih jelek lagi,” aku membalas ledekannya.
“Tapi aku suka kejelekanmu. Aku cinta kulit legammu. Aku sayang hidung pesekmu.” Lantas dia mencium pipiku setelah bilang seperti itu.
“Ayahmu jualan Mie ya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Kok tau?”
“Itu rambutmu keriting, kayak Mie.”
Dia manyun. Aku tertawa melihat raut wajahnya yang memerah. Baru setelah itu aku membalas ciumannya dan memberikan kehangatan kasih sayangku padanya.
Aku tersenyum sendiri mengingat hari-hari indah bersamanya. Hari-hari yang sulit sekali untuk dilewati dan pagi ini dia mengajakku bertemu kembali. Mungkin dia juga merasakan rindu seperti yang aku rasakan. Ya, aku harus segera menemuinya. Pasti dia sudah tidak sabar bertemu denganku.
Aku bangkit dari tempat tidur, padahal mata masih lengket. Kepala masih pusing. Aku coba regangkan otot-ototku. Aku singkap kelambu. Mentari mulai mengintip dari balik reranting pohon mangga di halaman rumahku. Aku hirup udara segar itu sebelum bergegas ke kamar mandi.
Suasana di rumah sudah sepi. Ayah dan ibuku sudah pergi bekerja jadi buruh di suatu pabrik rokok. Ibu tidak pernah membangunkanku sejak aku menginjak SMA. Dia anggap aku sudah dewasa. Di pagi hari dia hanya meninggalkan sarapan dan uang saku, kemudian pergi. Begitupun sekarang. Padahal aku sudah tidak sekolah lagi. Masih dua minggu lagi aku akan kuliah ke luar kota. Ya, meninggalkan semua kenangan disini.
Suasana pagi tiba-tiba gelap. Mendung menyusul matahari dari timur. Berarakan begitu tebalnya. Musim penghujan selalu begitu; hujan selalu datang di pagi hari dan sore hari. “Bagaimanapun aku harus pergi,” tekadku dalam hati.
Setelah dirasa siap, aku keluarkan motor dari bagasi. Aku melaju ke Taman Bunga dengan suasana hati yang tidak menentu. Taman Bunga di tengah kota berjarak 4 kilometer dari rumahku. Rintik hujan mulai turun perlahan.
Sampai di Taman Bunga aku dapati Lastri sudah duduk di bangku panjang cat putih. Bermacam bunga menghias di taman ini, dari Mawar sampai Melati dan dari warna merah sampai warna-warni. Lastri memakai baju ungu yang selaras dengan ungu celananya. Tampak wajahnya anggun dengan latar bunga mawar merah merona di belakangnya. Senyumnya menyambutku.
“Fai, ajak aku pergi dari kota ini sekarang,” ucapnya sambil memegang pergelangan tanganku.
“Kamu mau ikut aku kuliah di kota seberang?” tanyaku yang belum mengerti dengan kegelisahannya. “Aku tidak mau kau meninggalkan sekolahmu demi aku.”
“Ya, aku mengerti, tapi aku melakukan ini bukan karena kamu, hanya demi cinta kita.”
“Emang kenapa?” tanyaku menyelidik.
Lastri menghela napas berat. Matanya berembun. “Bapak menjodohkan aku sama Jauhari,” ungkapnya pelan sambil menunduk, tapi suara itu cukup membuatku terkejut. Aku tidak menyangka takdir akan berkata seperti ini. Benarkah kenyataan ini? Benarkah cinta akan berakhir sampai disini? Aku mengusap air mukaku. “Aku sudah menutup pintu hati ini untuk orang lain. Aku tidak bisa menerima Jauhari, Fai,” lanjutnya. Air matanya jatuh di punggung tanganku yang lagi memegang tangannya erat.
Aku jatuhkan kepalanya di pundakku. Aku belai rambutnya. “Maaf Lastri, aku tidak bisa membawamu. Aku tidak mau membuat orang tuaku kecewa. Aku belum bisa apa-apa. Kehidupanku masih tergantung pada orang tua.”
“Kita cari nafkah bersama-sama. Aku tidak akan tergantung padamu.”
“Tidak bisa Las!”
“Terus aku harus bagaimana?”
“Terima perjodohan itu.”
Tangisnya semakin menjadi. Tangannya erat memelukku.
*****
Satu bulan sudah aku di kota pelajar ini. Aku tinggal di sebuah kamar kos kecil di dekat kampus. Semua kegiatan aku mulai dari kamar kos ini. Kemudian beraktifitas ke kampus dan basecamp organisasi. Banyak hal yang aku temui di kota ini yang sedikit membantuku melupakan kenangan bersama Lastri. Lingkungan baru yang begitu indah dan teman baru yang menawarkan persahabatan. Mungkin Lastri juga begitu. Dia pasti sudah melupakanku. Malam pertama pernikahannya semalam pasti cukup membuatnya bahagia dan melupakanku.
Ah, aku sangat menyesal melakukannya malam itu. “Maafkan aku Tuhan, maafkan aku Ibu, maafkan aku Jauhari,” desahku dalam hati terasa sesak.
Malam itu merupakan malam terakhir sebelum keberangkatanku, Lastri datang lagi menemuiku. Dia masuk menyelinap ke kamarku. Dia membujukku kembali untuk mengambil keperawanannya. Dia menangis. Dia pasrah di pangkuanku. Malam kelam itu aku tidak kuasa menolaknya. Satu malam dia bersamaku dibuai asmara buta. Ah Lastri, bagaimana dengan malam pertamamu bersama Jauhari semalam?
Lastri, ada hal yang belum aku ceritakan padamu. Jauhari menemuiku pagi itu pada hari ketika aku mau berangkat ke kota ini. Dia berterima kasih padaku karena telah merelakanmu untuknya. Dia mengajakku berjabat tangan dan menerima persahabatan darinya. Bahkan dia memelukku Las, dan mendoakanku mencapai cita-cita yang aku inginkan. Sungguh, dia baik sekali Las. Aku bahagia setelah tahu jati dirinya. Aku kira, dia akan sanggup membahagiakanmu.
Di tengah lamunanku, handpone-ku berdering. Aku ambil HP itu yang tergeletak di atas tumpukan buku. Ada nomer baru menelepon.
“Halo, ini siapa?” sapaku.
“Ini Jauhari bro,” jawab dari seberang. “Maaf ya nganggu, aku minta nomermu dari Lastri,” lanjutnya ramah.
“Wah, wah, pengantin baru, gimana kabarnya?” sambutku berusaha menyambut keramahannya. Sumringah.
“Hahaha. . . .dia menangis semalam bro.”
“Bukannya semalam kalian malam pertama? Lho kok Lastri sampai menangis, kenapa?” tanyaku kaget.
“Makanya kamu nikah bro, biar mengerti. . .”
Aku mengerutkan kening.
“Menangis itu tandanya masih perawan bro….”
Sontak aku kaget mendengarkan penjelasan Jauhari. Begitu polosnya dia berkata seperti itu. Aku jadi merasa tambah bersalah sama dirinya. “Emang kalau perempuan menangis ketika lagi bercinta itu tandanya perawan ya bro?”
“Kata temen sih begitu,” jelasnya datar. “Terus menurutmu gimana?” Jauhari tanya balik.
“Kok malah tanya ke aku? Aku kan belum nikah…hehe,” aku mencandainya. Dia tertawa juga.
“Okelah, kita sambung lagi lain waktu ya bro,” pungkasnya. “Ntar bro, tuh istriku lagi basah rambutnya dari kamar mandi,” bisiknya pelan, hampir tidak kedengaran. Setelah itu terdengar Jauhari tertawa berkelekar kemudian telepon benar-benar ditutup. Aku tersenyum geli mendengarnya. Sambil membayangkan suasana kebahagiaan disana, aku rebahkan badan di atas kasur tipis.
Sepuluh menit berlalu, HP berbunyi kembali. Kini ada pesan masuk dari Lastri.
“Mas, tadi bajingan itu cerita apa? Kurang ajar rahasia suami-istri diceritakan ke orang lain,” begitu pesan yang aku baca darinya.
“Biasalah, dia terbawa kebahagiaan mungkin sehingga seperti itu. Kamu yang sopan memanggil suamimu, bagaimana pun juga dia udah sah menjadi suamimu,” jawabku mencoba menasehatinya.
“Biarin saja, aku tidak sudi. Asal mas tau aja ya, semalam aku menangis karena teringat sama mas. Eh, malah dikira masih perawan…hahaha.”
Aku terhenyak dengan sikap Lastri yang masih belum bisa menerima kenyataan akan dirinya. Aku matiin HP.
“Aku menyesal menuruti kemauanmu waktu itu Lastri. Maafkan aku Jauhari,” desahku dalam hati penuh penyesalan.

Yogyakarta, 04 Maret 2013
Cerpen Maltuf A. Gungsuma
(Cerpen ini dimuat di Koran Minggu Pagi No. 05 Th. 63 Minggu V April 2010)
Namanya Tiren. Begitu orang-orang memanggilnya. Bukan hantu yang mati kemarin. Dia wanita cantik yang selalu dikucilkan. Pemilik mata sayu yang selalu kelihatan kuyu. Seorang wanita piatu. Hidup sebatang kara. Sedang orang-orang pada mengacuhkannya. Begitu pula teman-teman sejawatnya, mengolok-olok tiap kali dirinya pergi ke hutan untuk sekedar mengganjal perutnya.

Kisah ini bermula ketika bayi mungil melengking di tengah malam hujan. Suaranya membelah cakrawala, seakan menuntut janji kasih Tuhan akan takdir buruknya. Mengamini secercah sinar pada akhir takdir yang mencekam. Semerbak harum bunga dari bangkai kehidupan. Dialah bayi yang selalu menyesali kehidupan. Mengutuk tiap suara yang penuh cercaan.

Inilah kisah tentang penderitaan yang cukup sempurna. Tiren terlahir dari rahim seorang ibu cantik yang selalu berharap kebahagiaan dari seorang bapak ringkih. Seorang bapak yang tidak punya apa-apa. Hanya gubuk kecil yang dirasa semakin sesak setelah si rewel Tiren lahir. Semakin pengap setelah sekian lama Tiren tidak mau menghentikan kebiasaan ngompolnya yang sembarangan. Juga seorang bapak yang tidak bisa apa-apa. Tidak punya pekerjaan tetap. Hanya seorang buruh tani dari tetangga yang kikir.

Tiren. Begitu orang sekitar mengolok-oloknya. Padahal itu bukan nama aslinya. Dia hanya terlahir dengan nama Nur Aini. Tidak dengan nama lain. Nama yang cantik dan cukup indah. Nama pemberian bapaknya. Namanya yang kemudian menjadi kenangan. Terkubur bersama temuni. Terasing dari pujian. Kemudian nama Tiren menjadi lebih populer.

Entah kenapa, aku sebagai suami juga ikut-ikutan memanggilnya dengan nama Tiren. Padahal sama saja aku ikut mengolok-oloknya. Menghinanya. Mengutuk bapaknya. Tapi aku mengenalnya memang begitu. Dia yang memperkenalkan dirinya sebagai Tiren. Dia tidak menyebutkan nama lain, waktu aku sapa pertama kali di hutan. Hanya ceritanyalah yang membuatku tahu semua tentang dirinya. Termasuk juga tentang nama aslinya.

 ***

“Pokoknya bulan ini Bapak harus belikan saya baju baru. Belikan aku bedak dan peralatan kosmetik lainnya. Aku ingin kecantikanku tetap terjaga. Biar Bapak ikut senang punya istri secantik ibu. Ujung-ujungnya juga Bapak sendiri yang akan menikmatinya.”

Suara itu terdengar jelas di telinga Marsilam yang berada di amperan. Bu Karin, istrinya, terus berceloteh sambil duduk di depan cermin di dalam rumah yang berdinding gedeg. Marsilam menghela nafas berat. Terasa ada batu besar mengganjal dalam hatinya. Terasa sesak. Raut mukanya kusam. Matanya nanar sambil memandang cangkul di hadapannya. Tangan kirinya mengusap-usap benda warisan bapaknya itu. Tangan kanannya memegang cebok. Sesekali disiramkan air pada batang benda yang menjadi sumber rezekinya itu.

“Mau cari dari mana uang untuk membelinya, Bu?”

Mendengar penuturan suaminya, bu Karin sepontan menghentikan gerak sisirnya. Membalikkan badan dari depan cermin dan beranjak keluar. Dengan berkacak pinggang di bibir pintu, bu Karin menatap tajam pada lelaki yang membawa lari dirinya dari kehidupan gemerlap orang tuanya itu. Orang tua yang selalu menghalangi cintanya bersama Marsilam gagah di waktu muda. “Bapak kan sering nyangkul sawah milik Pak Samin. Masak hanya dipekerjakan tanpa diberi upah? Rugi, Pak.”

“Emang nasi yang dimakan kita setiap hari itu, Ibu pikir, dari mana?” Marsilam balik bertanya sambil mengembalikan cebok ke tajo. Tempat mandi keluarga Marsilam. Baru kemudian menggantung cangkul di langit-langit rumah yang tingginya hanya dua setengah meter. Cangkul itu diposisikan terbalik dengan memasukkan mata cangkul ke kayu atap.

“Bapak usaha apa lah, kalau tidak ingin saya balik ke rumah.” Kata-kata inilah yang sering kali dijadikan ancaman bu Karin buat suaminya. Karena dia yakin, Marsilam tidak akan pernah mau kehilangan dirinya.

“Bapak akan selalu memenuhi permintaan Ibu,” Marsilam mengucapkan itu dengan raut wajah gusar. Kemudian dilanjutkan,“Tapi mohon Ibu mengerti, sekarang Bapak lagi tidak punya uang sama sekali.”

“Kurang pengertian apa lagi Pak?” Bu Karin menyelidik.

Seperti biasa Marsilam hanya bisa mengelus dada dan beranjak meninggalkan wanita yang sempat menghiasi malam rindunya. Marsilam tidak mau beradu mulut. Segumpal cinta masih membeku walau mulai aus. Lantas dia tinggalkan gubuk cintanya. Menyusuri jalanan yang sesepi hatinya.

Sesuatu yang tidak terduga terjadi dan menjadi hal ikhwal datangnya bencana. Ketika Marsilam berada tepat di pinggiran jurang pembuangan sampah, dia menemukan karung menggelembung di dalamnya. Karung besar itu terisi penuh sesak, terikat erat dan sepasang kaki ayam menyembul keluar. Setelah celingukan mengamati situasi sekitar, Marsilam menuruni jurang tersebut dengan tergesa-gesa.

Di dekat karung tergeletak itu Marsilam berdiri. Dengan posisi seperti rukuk, tangan kirinya menyibak sedikit celah karung. Tiba-tiba senyum sangat tipis menyembul dari belah bibir coklatnya ketika menyaksikan berpuluh bangkai ayam segar menumpuk di dalamnya.

***

Lima bulan terakhir Marsilam semakin dicintai istrinya. Tidak ada lagi kata-kata kasar terhadapnya. Yang ada hanya pujian dan kemanjaan. Setelah sukses menjual sekarung bangkai ayam, Marsilam jadi ketagihan. Marsilam selalu mencari bangkai ayam baru. Mendatangi tempat-tempat ternak ayam sampai pinggiran kota. Kehidupan semakin sejahtera. Pelanggan dari berbagai daerah berdatangan untuk memesan daging ayamnya yang murah.

Hingga tiba pada suatu hari....
“Aku pesan sepuluh kilo daging ayam yang masih segar.”

Siang bolong di Pasar Senen yang ramai pengunjung. Seorang lelaki tambun dengan wajah sangar sudah berdiri di depan Marsilam yang lagi sibuk memotong daging ayam. Seketika Marsilam mendongakkan kepala.

“Secepatnya di antar ke alamat ini!”

Secarik kertas sudah berpindah ke tangan Marsilam yang belepotan darah beku. Tanpa berkata lagi pemilik wajah sangar berbalik dan meninggalkan Marsilam yang terbelalak melihat alamat di secarik kertas itu.

“Aku harus mengantarkan ke Lembaga Pemasyarakatan?” Marsilam bertanya pada dirinya sendiri. Ada firasat jelek yang melintas di pikirannya.

“Sama saja aku datang ke kandang macan. Aku harus mengantarkan pada ibu Tara, salah satu penghuni LP. Siapa sebenarnya ibu itu tidak jadi persoalan bagiku. Yang penting, bagaimana caranya identitasku tidak ketahuan petugas di sana.”

Marsilam mengalihkan lagi perhatian pada pekerjaannya. Dibiarkan saja pikiran waswasnya berkelana. Dia seakan tidak mau tau akan risiko setelah habis mengantarkan ke LP. Baginya, semua akan berlalu begitu saja tanpa masalah.

Sesekali mata Marsilam berkeliling luas pasar. Dengan cekatan tangannya memoles daging yang berwarna ungu dengan zat pewarna. Ada kegetiran dalam hatinya. Jijik. Meneteskan air mata. Bukan menyesal tapi meminta pengertian.

“Maafkan aku para pembeli daging bangkaiku,” suara serak tertahan di lehernya. Semua daging itu terus dilumuri dengan zat pewarna. Tidak ada yang ketinggalan.

“Aku berharap kau mengerti, betapa pekerjaan ini terjadi karena terpaksa. Aku tidak akan pernah melakukannya bila istriku tidak begitu.”

Marsilam terus bergumam dalam hati. Tapi bukan penyesalan. Karena sebentar lagi dia akan berangkat lagi mengantarkan daging bangkai. Secarik kertas menjadi petunjuk jalannya menuju LP.

***

“Bapak, aku mau makan daging ayamnya.” Tiren kecil, yang masih bernama Nur Aini, merajut pada Marsilam yang duduk di kursi kayu. Suatu malam benderang dengan bulan menggantung di langit. Inilah yang tidak pernah Marsilam inginkan. Keluarganya mau ikut makan daging bangkainya.

“Daging ayam Bapak tidak enak,” Marsilam berkilah.

“Aini mau dibelikan di luar saja ya sama Bapak.”

“Aini hanya mau daging ayam punya Bapak,” Aini tetap merajut.

“Teman-teman Aini bilang kok, kalo daging ayam punya Bapak enak.”

“Aini jangan mengkal sama omongan orang tua!” bentak Bu Karin beranjak dari tempat tidur dan duduk di pinggirannya. Matanya melotot menusuk mata lugu Aini. Marsilam hanya mengelus lembut anak tujuh tahun itu.

Aini tidak berani menatap mata ibunya. Wajahnya seketika tertunduk.

“Aini kan hanya ingin daging ayam punya Bapak.”

Melihat Aini yang tetap bersikukuh, kemarahan ibu Karin memuncak. Dengan sedikit meloncat ke arah Aini, tangan kanannya diangkat bersiap diayunkan ke pipi anak mungil itu.

“Ibu!”

Marsilam berhasil menangkap tangan istrinya. Tapi tanpa diduga, Tiren kecil membuka pintu dan melarikan diri.

Marsilam tersentak dengan apa yang dilakukan anaknya. Aini telah berada jauh di luar rumah.

“Aini.....!”

Marsilam hendak mengejar anak kesayangannya itu tapi terhenti di depan pintu. Tiga orang dengan tubuh tegap berbaju preman sudah berdiri di depan rumahnya. Aini berada di pangkuan salah seorang itu.

“Kami dari kepolisian. Anda ditangkap dengan tuduhan menjual daging bangkai ayam,” tukas seorang polisi berjaket hitam.

Sontak tubuh Marsilam menggigil. Suara itu begitu lembut tapi bagai tamparan baginya.

“Ibu Karin juga kami tangkap karena telah bersekongkol dengan kejahatan,” lanjut polisi tersebut.

Ibu Karin yang baru keluar rumah menyusul suaminya langsung jatuh pingsan. Dua polisi langsung berhamburan, memapah ibu Karin ke mobil polisi di luar pagar dan memborgol tangan Marsilam.

“Ternyata orang ini yang buat Bu Tara mual-mual karena tahu yang dimakan adalah bangkai,” celetuk polisi yang menggendong Aini.
Marsilam tersenyum bangga bisa memberikan pelajaran berharga bagi ibu Tara. Marsilam lebih merasa jijik melihat ibu Tara dari pada bangkai daging ayamnya. Saat mengantarkan pesanan ke LP, Marsilam jadi tahu kalau ibu Tara merupakan tahanan kasus korupsi yang memperoleh pelayanan istimewa di sana.

***

“Setelah itu Aini diasuh oleh seorang nenek, satu-satunya kerabat Marsilam yang peduli,” pungkasku mengakhiri cerita di depan keluargaku di meja makan. Beberapa daging ayam di atas piring belum ada yang tersentuh.

“Tapi hanya satu tahun saja, karena nenek itu keburu dipanggil menghadap Tuhan. Begitu setelahnya, Aini menjelma menjadi Tiren dan menjadi bulan-bulanan teman-teman sejawatnya.”

Tiren menunduk di meja makan tepat di sampingku. Perempuan anggun itu hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya dengan sendok dan garpu. Sesekali air matanya jatuh di sisi piring, berdenting seperti jeritan hatinya.

“Maaf anakku, aku belum bisa menentukan!”

“Ayah sendiri yang bilang, setelah diceritakan akan menerima Tiren apa adanya.”

Ayah malah beranjak meninggalkan hidangan makan pagi yang belum tersentuh. Ayah tidak menatapku sedetik pun setelah itu, hanya gelengan yang diperlihatkannya. Pergi dengan jas hitam meninggalkan bunyi klakson mobilnya. Ibu juga beranjak setelah menepuk pundakku. Kemudian bibi Ratna yang langsung berlari ke arah toilet. Kemudian terdengar suara orang muntah begitu keras.

Tiren menatap mataku sejenak.

“Maafkan aku,” ucapnya serak menahan pilu.
“Kamu tidak bersalah!”

Tiba-tiba Tiren beranjak dari sampingku juga dan berhamburan ke kamar pengantinku di lantai atas. Aku masih berdiam diri. Aku biarkan Tiren menyendiri, menumpahkan segala kesedihannya. Sementara aku tetap di meja makan dengan hati galau. Resah.

Suasana jadi senyap seketika. Aku celingukan. Ke mana semua orang?

“Tiren?”

Setelah pintu kamar pengantin terbuka lebar-lebar, air mataku tumpah ruah.

LSK Yogyakarta, Februari 2010